Status Aktivitas Gunung Merapi SIAGA (level III)

Terhitung Mulai Tanggal 5 November 2020

RANGKAIAN KEGIATAN PERINGATAN 3 TAHUN ERUPSI GUNUNGAPI MERAPI

Ditulis oleh

|

Erupsi Gunungapi Merapi 2010 tercatat sebagai erupsi terbesar dalam kurun waktu seratus tahun terakhir. Erupsi tersebut diperkirakan mencapai Volcanic Explosivity Index pada skala 4, yang ditunjukkan dengan volume material yang disemburkan  mencapai 140 juta meter kubik dan tinggi kolom letusan mencapai 9 kilometer dari puncak Gunungapi Merapi. Erupsi ini mengakibatkan 289 jiwa manusia meninggal dan lebih dari 150 ribu juwa mengungsi, serta kerugian di segala sektor kehidupan masyarakat mencapai 7,3 triliyun rupiah. Di masa yang akan datang, Badan Penyelidikan dan Pengembangan Tehnologi Kegunungapian dan Geologi (BBPTKG) menyatakan bahwa erupsi Gunungapi Merapi mengarah ke sektor Selatan – Tenggara. Oleh karena itu, kesiapsiagaan seluruh stakeholder penanggulangan bencana merupakan keniscayaan agar erupsi mendatang tidak menimbulkan resiko bencana yang besar.

Untuk menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman – dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman yang bekerjasama dengan BPBD Provinsi DIY memanfatkan momentum 3 tahun Erupsi Gunungapi Merapi menyelenggarakan rangkaian acara Gladi Posko, Sarasehan, Apel Siaga dan Gladi Lapang Penanggulangan Bencana Erupsi Gunungapi Merapi pada tanggal 1 – 5 November 2013.

 

Sarasehan

Kegiatan Sarasehan merupakan bentuk rasa syukur masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Sleman atas terlaksananya penyelenggaraan penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi dengan baik.  Sarasehan ini bertemakan adalah “Mengenang Kejadian Erupsi Merapi 2010 untuk Bangkit Kembali Menuju Masyarakat yang Tangguh Menghadapi Bencana”, yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 4 November 2013 di Hunian Tetap (Huntap) Pagerjurang. Acara ini dihadiri oleh Kepala BNPB dan jajaran Direktur, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BPPTKG, BPBD Propinsi DIY, BPBD Kabupaten-Kota di DIY, Kepolisian dan TNI serta perwakilan Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR), jajaran pemerintah juga dihadiri ratusan warga masyarakat korban erupsi Gunungapi Merapi 2010 yang telah direlokasi dari Kawasan Rawan Bencana III ke Hunian Tetap, diantaranya Huntap Pagerjurang, Huntap Karangkendal, Huntap Plosokerep dan Huntap Batur.

IMG_2013_resize

 

IMG_2064_resizeIMG_2086_resize

IMG_2068_resize

Dalam kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pawai bergodo labuhan merapi, dan arakan tumpeng dari berbagai lokasi huntap. Acara Potong Tumpeng yang dilakukan oleh warga masyarakat Huntap, yang dilanjutkan dengan Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon “Petruk Dadi Ratu” – yang didahului dengan penyerahan sebuah wayang yang menjadi tokoh utama dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif menyerahkan kepada Ki Bambang Nugroho.Inti acara sarasehan adalah sambungrasa Ka BNPB, DPR RI,  Bupati, para korban, relawan dan pamong desa di  lereng merapi, terhadap perkembangan terkini, terutama berkaitan dengan jalan evakuasi dan beberapa kelengkapan fasilitas di huntap.

Gladi Posko

Gladi Posko adalah kegiatan simulasi penyusunan skenario evakuasi masyarakat yang berada di KRB III Gunungapi Merapi, yang bertujuan untuk menyamakan pemahaman rencana operasi (evakuasi) ketika status Gunungapi Merapi meningkat sehingga jika terjadi status kedaruratan, masing-masing pihak sudah memahami konteks ketugasan dan menjalankannya seseuai dengan Rencana Kontijensi. Gladi Posko dilaksanakan selama 3 hari, tanggal 1 – 3 November 2013 di Hotel Eden Kaliurang yang diikuti dari Satuan Kerja Pemerintah Daerah Pemkab Sleman dan jajaran pemerintah lainnya (Hari 1), Perangkat Desa dan tokoh masyarakat (Hari 2), dan Masyarakat dan Komunitas/Relawan (Hari 3).

 

Pembahasan materi Hari pertama difokuskan pada jalur evakuasi, pengelolaan tempat pengungsian, Manajemen Posko dan Pelayanan Kesehatan. Sedangkan Hari 2, pembahasan difokuskan pada pembahasan jalur evakuasi, isolas wilayah dan sinkronisasi titik kumpul. Kemudian pada Hari 3, pembahasan difokuskan pada sistem dan mekanisme komunikasi, pembahasan SOP Tanggap Darurat dan perhitungan kesenjangan sumberdaya yang dibutuhkan saat tanggap darurat.

 

Apel Siaga

Apel Siaga merupakan kegiatan upacara kesiapsiagaan seluruh pihak dalam menghadapi erupsi Gunungapi Merapi yang dipimpin oleh Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Paku Alam IX dan dihadiri oleh 150 tamu undangan serta diikuti sekitar 1500 personil dari Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, Kepolisian, TNI, PMI, BASARNAS, Tagana, Tim SAR LINMAS DIY, Tim SAR Kabupaten Sleman, Pramuka, Relawan serta masyarakat di Desa Kepuharjo dan Desa Umbulharjo. Apel Siaga ini dilaksanakan pada Selasa, tanggal 5 November 2013 di Tugu Ambruk, Petung, Kepuharjo, Cangkringan Sleman.

 

Sri Paduka Paku Alam IX dalam sambutannya menyatakan bahwa  melalui apel siaga ini, diharapkan masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaanya dan mengharapkan semua elemen bisa terus meningkatkan koordinasi di semua sektor. Wagub juga menegaskan bahwa penanggulangan bencana merupakan kegiatan multi sektor, sehingga harus melibatkan semua pihak untuk terlibat di dalamnya. Tak lupa, Wagub juga menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas peran dan kontribusi berbagai pihak dalam penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi 3 tahun yang lalu.

Bagian akhir dari Apel Siaga dilaksanakan pengukuhan Forum Pengurangan Resiko Bencana tingkat Kecamatan yang sudah dibentuk di wilayah Kabupaten Sleman untuk menghadapi berbagai jenis ancaman bencana. Acara Apel Siaga ini ditutup dengan penyerahan secara simbolis kendaraan dan peralatan penanggulangan bencana dari Kepala BNPB Syamsul Maarif kepada Kepala Pelaksana Bupati Sleman Sri Purnomo yang disaksikan oleh Wagub DIY.

IMG_2224_resize_MG_4904_resize

Gladi Lapang

Di lokasi yang sama, setelah Apel Siaga kegiatan dilanjutkan dengan Gladi Lapang Kesiapsiagaan. Gladi Lapang ini bertujuan untuk mensimulasikan kesiapsiagaan seluruh pihak dalam penanggulangan bencana Gunungapi Merapi ke depan.

Gladi Lapang diawali dengan simulasi peningkatan aktivitas Gunungapi Merapi dari Normal hingga ke Awas, yang dibarengi dengan aktivitas koordinasi antar-pihak, sosialisasi ke masyarakat di KRB III Gunungapi Merapi, evakuasi penduduk dan ternak, penyiapan dan pendirian tempat pengungsian – yang meliputi pendirian tenda pengungsi, tenda keluarga, Dapur Umum, Tenda Kesehatan, Tenda Keamanan dan peralatan penanggulangan bencana lainnya. Evakuasi masyarakat dilakukan dengan mengutamakan evakuasi kelompok rentan, yang terdiri dari dari bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, orang sakit, dan penyandang difabel.

IMG_2329_resize IMG_2154_resize_MG_5359_resize

Gladi lapang memeragakan berbagai sektor bersinergi dalam penanggulangan bencana, dengan mengutamakan kelompok rentan. Sektor tersebut adalah SAR, Kesehatan, Logistik, Keamanan, dan dilakukan secara hirarkis. Gladi lapang menggambarkan pengungsian Merapi dilakukan saat status Merapi “SIAGA” seperti SOP yang sudah disepakati 22 dusun rawan bencana Merapi.

Kepala BNPB Syamsul Maarif menekankan pentingnya kerjasama dalam penanggulangan bencana. Beliau yakin hal itu dapat dilakukan mengingat masyarakat setempat memiliki kebiasaan gotong royong. “Ini modal masyarakat dalam penanggulangan bencana”, ujar Kepala BNPB. Kepala BNPB sangat berterima kasih dan mengapresiasi BPBD provinsi dan kabupaten, serta Bupati Sleman atas upaya-upaya penguatan kapasitas lokal melalui beberapa kegiatan yang ditutup dengan apel siaga dan gladi lapang.

_MG_5363_resize

Syamsul Maarif menambahkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi erupsi itu sangat perlu dilakukan. dikarenakan siklus Gunungapi Merapi 4-5 tahunan mengeluarkan material yang sifatnya magmatis atau tergolong erupsi besar. Saat aktivitas gunung itu sangat tinggi, maka masyarakat yang berdampingan dengan Merapi harus mau berpindah tempat dan menyelamatkan diri.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Agenda Kegiatan