Sleman – BPBD Kabupaten Sleman menerima kunjungan delegasi Mount Fuji Research Institute (MFRI), Jepang, dalam rangka kegiatan pertukaran pengetahuan mengenai pengurangan risiko bencana dan upaya membangun ketangguhan masyarakat di kawasan rawan bencana Gunung Merapi. Kegiatan berlangsung selama dua hari, yaitu pada Senin (20/7) dan Selasa (21/7), dengan mengunjungi sejumlah lokasi yang menjadi bagian dari pembelajaran penanganan bencana di Kabupaten Sleman.
Pada hari pertama, Senin (20/7), rombongan MFRI mengunjungi Posko Utama BPBD Kabupaten Sleman di Pakem. Dalam kesempatan tersebut, BPBD Kabupaten Sleman memaparkan pengalaman penanganan erupsi Gunung Merapi tahun 2010, mulai dari proses tanggap darurat, koordinasi lintas sektor, evakuasi masyarakat, hingga berbagai upaya yang dilakukan dalam penanganan bencana dan pemulihan pascabencana. Diskusi ini menjadi sarana berbagi pengalaman mengenai strategi pengurangan risiko bencana yang telah diterapkan di Kabupaten Sleman.
Kegiatan dilanjutkan pada hari kedua, Selasa (21/7), dengan kunjungan ke SMP Negeri 2 Cangkringan. Di lokasi ini, MFRI bersama BPBD Kabupaten Sleman berdiskusi mengenai penerapan Program Sister School, sebuah konsep yang dikembangkan sebagai upaya menjaga keberlangsungan proses pendidikan ketika terjadi bencana.
Dalam diskusi tersebut, pihak sekolah menjelaskan bagaimana pengalaman saat erupsi Merapi tahun 2010 menjadi salah satu dasar lahirnya Program Sister School. Berbagai pengalaman dibagikan, mulai dari proses penanganan saat bencana, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar setelah erupsi, hingga mekanisme kerja sama antarsekolah agar pendidikan tetap dapat berlangsung dengan aman di tengah situasi darurat.
Masih pada hari yang sama, rombongan melanjutkan kunjungan ke Museum Petilasan Mbah Maridjan di Kalurahan Umbulharjo bersama BPBD Kabupaten Sleman dan Pemerintah Kalurahan Umbulharjo. Di lokasi tersebut, rombongan berkesempatan bertemu langsung dengan Mbah Asih, putra Mbah Maridjan yang kini melanjutkan amanah sebagai Juru Kunci Gunung Merapi.
Melalui sesi berbagi pengalaman, Mbah Asih menceritakan secara langsung peristiwa erupsi Merapi tahun 2010, kondisi masyarakat saat bencana, proses evakuasi, serta nilai-nilai kearifan lokal yang terus dijaga dalam kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan Gunung Merapi. Kisah tersebut memberikan perspektif bahwa pembelajaran kebencanaan tidak hanya diperoleh melalui data dan kajian ilmiah, tetapi juga dari pengalaman nyata serta pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama dan pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Jepang dalam bidang pengurangan risiko bencana. Melalui diskusi, observasi lapangan, dan berbagi pengalaman secara langsung, diharapkan praktik-praktik baik yang telah diterapkan di Kabupaten Sleman dapat menjadi referensi dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap menghadapi bencana di masa mendatang.







Leave a Reply