SLEMAN – Gunung Merapi terus menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Pada 9 September 2024 telah terjadi dua kali guguran awan panas yang meluncur hingga 1.500 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju Kali Bebeng. Hal tersebut disampaikan oleh BPPTKG.
BPPTKG mencatat asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tebal, setinggi 50 meter dari puncak kawah, yang menandakan adanya tekanan vulkanik di dalam gunung. Aktivitas seismik menunjukkan dua kali awan panas guguran dengan amplitudo 62 hingga 69 mm dan durasi antara 155 hingga 157 detik. Selain itu, tercatat 137 kali guguran dengan amplitudo 3 hingga 37 mm dan durasi antara 24 hingga 205 detik. Aktivitas hybrid atau fase banyak terdeteksi sebanyak dua kali, dengan amplitudo 3 hingga 5 mm. Satu gempa tektonik jauh dengan amplitudo 4 mm juga tercatat dengan durasi 60 detik.
Selain awan panas, teramati 22 kali guguran lava yang juga mengarah ke barat daya, dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter. Satu kali suara guguran terdengar dari Pos Babadan dengan intensitas sedang.
Saat ini, status aktivitas Gunung Merapi berada pada Level III (Siaga). Potensi bahaya meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya yang mencakup aliran Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Sementara di sektor tenggara, ancaman meliputi aliran Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Material vulkanik yang terlontar akibat letusan eksplosif juga dapat mencapai radius 3 km dari puncak gunung.
Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas di zona potensi bahaya dan mewaspadai adanya awan panas dan banjir lahar, terutama saat hujan. Selain itu, masyarakat diminta untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi.
(Magang)







Leave a Reply