BPBD Kabupaten Sleman bersama dengan BPBD di seluruh wilayah DIY serentak melaksanakan kegiatan Gladi Posko Penanggulangan Bencana Gempa Bumi pada hari Selasa, 30 September 2014 pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan dengan anggaran dari BPBD DIY. Lokasi gladi posko di masing-masing kantor BPBD. Namun, gladi posko di Kabupaten Sleman bertempat di Posko Utama Pakem, yang merupakan gedung yang biasanya digunakan untuk Posko Penanggulangan Bencana Gunung Merapi. Ruangan yang dipakai untuk gladi posko berada di ruang rapat lantai 2 di Posko Utama Pakem yang ditata sedemikian rupa menyerupai Ruang Pos Komando Tanggap Darurat. Gladi Posko di Kabupaten Sleman ini melibatkan sejumlah 36 personil dari instansi terkait, diantaranya: Sat Pol PP, Kodim 0732 Sleman, Polres Sleman, SAR Sleman, RAPI Sleman, PMI Sleman, Tagana Sleman, Bagian Humas, Dinas PUP, Dinas Kesehatan, Dinas Hubkominfo, Kecamatan Berbah, Kecamatan Kalasan, dan Kecamatan Prambanan. Setiap pelaku gladi posko difasilitasi rompi dari BPBD DIY yang bertuliskan nama instansi/organisasi masing-masing.
Penataan ruangan pelaksanaan Gladi Posko Gempa Bumi
Berdasarkan Buku Pedoman Gladi yang dibagikan kepada peserta, maksud dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan taktis aparat penanggulangan bencana semua Pusdalops di wilayah DIY. Format gladi yang digunakan adalah latihan unsur pimpinan/ pengambil keputusan tanpa pasukan dengan bentuk diskusi. Skenario gladi posko yang digunakan sama dengan kejadian gempa bumi yang terjadi di DIY dan sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006. Kendali jalannya gladi posko di tangan Direktur Latihan yang berada di Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD DIY. Pelaku gladi posko di masing-masing Kabupaten/Kota bertugas melaksanakan peran sesuai skenario gladi dan merespon pesan (inject) yang diberikan oleh Direktur Latihan.
Jalannya gladi posko dimulai tepat pukul 09.00 WIB ditandai dengan bunyi sirine. Direktur Latihan memberitahukan informasi dari BMKG terjadinya gempa bumi berkekuatan 6,3 SR pada 25 KM sebelah barat daya Kota Yogyakarta dengan kedalaman 10 KM yang diasumsikan terjadi pada hari Sabtu 27 Mei 2015 pukul 05.53 WIB. Pelaku Gladi Posko di Kabupaten Sleman harus merespon pengumuman kejadian gempa tersebut sesuai dengan skenario gladi yang telah dibagikan. Tahapan adegan yang dilakukan oleh pelaku gladi posko di Kabupaten Sleman, diantaranya: diseminasi informasi gempa bumi, koordinasi laporan dampak bencana dengan kecamatan terdampak, penugasan Tim Reaksi Cepat untuk kaji cepat, penyiapan rekomendasi penetapan status bencana, penetapan status bencana oleh Bupati, dan pembentukan Komando Tanggap Darurat, serta penentuan struktur dan personil Komando. Berdasarkan Keputusan Bupati Sleman ditetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari dan ditetapkan Komandan Tanggap Darurat adalah Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman.

Kemudian, Direktur Latihan memberikan pesan (inject) melalui email [email protected] yang harus direspon oleh para pelaku Gladi Posko di masing-masing Kabupaten/Kota di DIY. Pesan itu misalnya: “Dinsos Kab/Kota memberitahukan bahwa telah menerima laporan dari warga bahwa di 4 titik pengungsian terdapat sekitar 20 warga yang difable dan memerlukan pemenuhan kebutuhan khusus”. Kemudian, Komandan Tanggap Darurat di Kabupaten Sleman merespon informasi ini berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penyiapan kebutuhan khusus kelompok rentan di 4 titik tersebut.

Pelaksanaan gladi posko di Kabupaten Sleman sangat terbantu dengan adanya Peta Amplifikasi Tanah di Kabupaten Sleman. Peta Amplifikasi adalah peta yang menggambarkan besarnya amplifikasi tanah di suatu tempat sebagai respon signal gempa bumi. Peta Amplifikasi yang dibuat tahun 2008 ini menjadi pedoman untuk mengetahui wilayah-wilayah yang terdampak bencana gempa bumi. Dalam Peta Amplifikasi tersebut dibagi menjadi 4 wilayah, yaitu wilayah dengan amplifikasi: rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Semakin tinggi tingkat amplifikasi, semakin besar tingkat kerusakan akibat gempa bumi. Wilayah Kabupaten Sleman yang memiliki amplifikasi tinggi hingga sangat tinggi banyak terdapat di wilayah Kecamatan Kecamatan Prambanan, Kalasan, dan Berbah. Oleh karena itu, pada kejadian gempa bumi tahun 2006 tingkat kerusakan di wilayah Kecamatan Prambanan, Kalasan, dan Berbah lebih parah dibanding wilayah kecamatan lainnya. Peta Amplifikasi pada pelaksanaan gladi posko ini ditindaklanjuti dengan pembuatan Peta Operasi berdasarkan wilayah yang benar-benar terdampak.

Setelah Direktur Latihan menyatakan Gladi Posko telah selesai tepat pukul 14.00 WIB, para pelaku gladi posko di Kabupaten Sleman melakukan evaluasi terhadap jalannya gladi posko. Beberapa hal yang dievaluasi, antara lain:
- Pesan yang disampaikan oleh Direktur Latihan seringkali tidak jelas dan ada yang tidak logis, sehingga Kabupaten/Kota kesulitan merespon.
- Pada skenario gladi yang dibagikan belum jelas peran masing-masing instansi terkait
- Mekanisme penyampaian respon dari Kabupaten/Kota terhadap pesan yang disampaikan Direktur Latihan tidak jelas
Meskipun ada beberapa hal yang perlu dievaluasi, para pelaku gladi posko secara umum mengapresiasi pelaksanaan gladi dan menyarankan agar pelaksanaan gladi dapat dilakukan lebih sering.






Leave a Reply