Bupati Sleman Sri Purnomo mengingatkan warga yang tinggal di daerah rawan bencana untuk siap menghadapi berbagai bencana alam di daerahnya. Terlebih masyarakat Desa Wukirharjo, Prambanan telah dilatih bagaimana cara menyelamatkan diri dan telah melakukan simulasi penanganan bencana tanah longsor.
“Simulasi tersebut adalah bentuk pemberdayaan masyarakat terhadap penanggulangan bencana. Apalagi lagi Desa Wukirharjo ini sudah dideklarasikan sebagai desa siaga bencana. Desa siaga bencana ini bukan slogan semata, namun warga desa yang berdomisili di suatu daerah yang dianggap rawan terhadap bencana, agar masyarakatnya memahami dan dapat meminimalisasi serta mengantisipasi dampak bencana tersebut sejak dini,” jelas Bupati saat meninjau lokasi tanah longsor di Wukirharjo, Prambanan..
Dijelaskan Bupati bahwa setiap Desa Siaga Bencana diperkuat dengan lumbung sosial yaitu kelengkapan kebutuhan dasar seperti lauk pauk, kebutuhan untuk perempuan dan anak, dan kebutuhan dasar lainnya. Bupati juga berharap agar mitigasi bencana dapat menjadi local wisdom masyarakat Wukirharjo pada khususnya dan masyarakat Sleman pada umumnya.
Bupati juga mengingatkan warga bahwa pada bulan Januari ini merupakan puncak musim penghujan, wilayah Sleman sering diterpa angin puting beliung dan juga bencana tanah longsor. Terlebih lagi wilayah Wukirharjo ini memiliki wilayah yang berbukit-bukit dan rawan terhadap bencana tanah longsor. Kondisi ini, harus menjadi bagian dari kesiapsiagaan masyarakat dalam mitigasi bencana.
“Kita semua berharap, bencana tidak lagi terjadi. Namun jika terjadi lagi, kita harus lebih siap dan melakukan upaya mitigasi yang lebih baik lagi, sehingga jatuhnya korban baik jiwa maupun materi dapat lebih diminimalisir,” pesan Bupati yang juga menyerahan bantuan penanganan pasca bencana alam tanah longsor di Wukirharjo Prambanan, Selasa 7 Januari 2013.
Bantuan yang diserahkan berupa bantuan semen dan material senilai Rp. 7.767.620,-, bantuan untuk rumah rusak kategori ringan senilai Rp. 500.000,- dan paket sembako dan lauk pauk sebanyak 20 paket.

Setelah meninjau dan menyerahkan bantuan korban tanah longsor, Bupati juga menyempatkan diri meninjau salah satu titik rawan bencana yang ada di Padukuhan Watukongsi, Prambanan. Di wilayah tersebut ada sebuah bongkahan batu besar yang sudah retak dan berdampak jatuh / menggelinding ke bawah. Padahal di bawahnya adalah pemukiman penduduk yang dihuni 15 KK, terdiri dari 43 jiwa dengan 3 lansia dan 3 balita.
Pada kesempatan tersebut Bupati minta agar warga yang ditinggal di wilayah tersebut untuk selalu waspada bila sewaktu waktu terjadi hujan dengan itensitas tinggi. Bupati juga meminta agar bongkahan batus besar yang menjadi ancaman tersebut segera ditangani di awal tahun ini , agar tidak terjadi korban .
Selanjutnya bupati juga meninjau pengolahan / pengaturan air untuk kebutuhan warga di Padukuhan Dayakan. Bupati mengecek kesiapan alat untuk operasional penyaluran air. Selama ini untuk menggerakan mesin pompa warga menggunakan solar yang cukup memberatkan.
Di tahun 2013 lalu, BPBD Kabupaten Sleman telah melakukan konversi agar mesin pompa dapat digerakan menggunakan tenaga listrik. Harapannya, biaya operasioanal untuk menggerakan mesin pompa bisa lebih ringan. .Sumur pompa air bawah tanah di Padukuhan Dayakan, mampu mensuplay air minur di Desa Wukirharjo, Gayamharjo dan Sumberharjo dan sebagian wilayah Piyungan dengan jumlah lebih dari 1.000 KK.







Leave a Reply