SLEMAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memastikan, hingga awal Agustus 2022 belum ada permohonan dari warga yang meminta dropping air bersih di wilayah Bumi Sembada. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan air bersih masyarakat di musim kemarau basah tahun ini masih cukup. Walau demikian, potensi bencana kekeringan di Sleman telah diantisipasi dengan tetap menyediakan anggaran dropping air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro pada Selasa (08/02) menyebutkan, “Anggaran untuk cadangan dropping air bersih tahun 2022 ini, kami siapkan 75 tangki dengan kapasitas per tangki 4.000 liter.”
Satu tangki dengan kapasitas 4.000 liter air bersih itu, senilai Rp 250.000 sehingga total anggaran tersedia Rp 18.750.000-. Di samping itu, Kata Bambang, Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Sosial, juga berkomitmen untuk membantu menyediakan 50 tangki air bersih yang bisa diakses oleh Pemerintah Kabupaten Sleman apabila terjadi bencana kekeringan di musim kemarau.
Sejauh ini, kebutuhan air masih aman. Belum ada permintaan dropping air dari warga. Bambang mengatakan, berkaca dari tahun 2021 lalu, dropping air bersih dilakukan ke wilayah Moyudan.
Sebab, saat itu di Sleman bagian barat tersebut sedang ada pengerjaan infrastruktur sehingga sempat menghambat debit air dari Selokan Mataram. Kini, sudah terselesaikan. Selanjutnya, dropping air juga dilakukan untuk warga di Kapanewon Prambanan. Namun, problem air bersih di Prambanan pada tahun ini sudah tertangani dengan dibangun sistem pengairan air yang baru. Dropping air bersih yang dilakukan BPBD Sleman menurut dia hanya untuk kebutuhan pokok. Seperti kebutuhan untuk minum dan masak. Bukan untuk kebutuhan ternak.







Leave a Reply