Wisatawan mancanegara berkewarganegaraan Rusia, Ehbrewhnin Yevgeniy (26 tahun) yang tersesat ketika melakukan pendakian seorang diri di Gunung Merapi sejak Minggu (11/8) telah ditemukan oleh Tim SAR (Search And Rescue) pada hari Kamis (15/8) dalam kondisi selamat dengan sedikit luka lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Berdasarkan informasi dari Posko Operasi SAR di Kinahrejo, korban ditemukan di sebelah barat jalur pendakian lereng selatan G. Merapi pada pukul 13.46 WIB dengan titik koordinat S 7˚ 33’ 56,7” E 110˚ 26’ 17,5”. Dikarenakan medan yang sulit sehingga membutuhkan proses evakuasi selama kurang lebih 6 jam dari lokasi ditemukannya korban hingga tiba di Posko Operasi SAR di Kinahrejo. Setelah itu, dilaksanakan serah terima korban dari pelaksana operasi SAR kepada Kapolda DIY.
Kegiatan pencarian korban yang dilaksanakan selama 5 hari tersebut melibatkan ratusan personil dari berbagai lembaga pemerintah dan unsur masyarakat, yaitu Organisasi SAR BASARNAS, Kepolisian DIY, TNI, BPBD Propinsi DIY, SAR DIY, Kesbanglinmas Propinsi DIY, SAR Linmas, BPBD Kabupaten Sleman, SAR Kabupaten Sleman, Dinas Sosial dan Tagana Kabupaten Sleman, RAPI, Pemerintah Desa Umbulharjo, Organisasi Relawan, Organisasi Pecinta Alam, masyarakat sekitar dan unsur potensi SAR lainnya. Meskipun dari berbagai macam lembaga, seluruh personil dapat bekerjasama dengan baik demi keberhasilan operasi SAR.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Sleman, Drs. H. Julistiono Dwi Wasito, SH, MM, secara khusus memberikan apresiasi atas keberhasilan operasi SAR yang telah dicapai. “Upaya pencarian wisatawan mancanegara asal Rusia yang tersesat di Merapi dengan melibatkan banyak pihak telah saling bekerja sama dengan baik dan Alhamdulillah telah berhasil ditemukan, untuk itu kami memberikan penghargaan yang tinggi dan ucapan banyak terima kasih atas kerja keras dan semangat yang tinggi dalam upaya pencariannya” paparnya di Sleman (15/8). Kalak BPBD Kabupaten Sleman juga menekankan bahwa perlu dilakukan evaluasi sehingga jika terjadi lagi hal yang sama akan terlaksana lebih baik lagi penanganannya.
Julisetiono menambahkan bahwa kejadian ini memberikan pelajaran yang berharga bagi semua pihak. Di satu sisi, paska erupsi 2010 G. Merapi mempunyai wajah baru yang membuat semakin banyak orang penasaran untuk berkunjung dan melihat dari dekat keindahan panoramanya sangat indah dan menarik sebagai obyek wisata alam dan minat khusus, tracking dan pengembangan potensi wisata lainnya. Namun di sisi lain, kondisi topografi G. Merapi yang cukup ekstrim menyebabkan tingkat resiko terjadinya kecelakaan atau musibah menjadi lebih besar. “Dalam kondisi Aktif Normal dan cuaca yang cerah seperti saat ini dimungkinkan adanya pendakian dari lereng selatan G. Merapi, namun maksimal hanya sampai di Kendit – seperti yang direkomendasikan oleh BPPTKG Yogyakarta. Oleh karena itu, pengelolaan wisata di lereng selatan G. Merapi membutuhkan metoda khusus, misalnya setiap kegiatan pendakian harus disertai oleh pemandu yang mempunyai kompetensi, sehingga wisatawan dapat lebih nyaman dan aman dalam pendakiannya” ujarnya.









Leave a Reply