SOSIALISASI PERATURAN BUPATI SLEMAN NOMOR 36 TAHUN 2017 TENTANG BANTUAN BENCANA

BPBD Kabupaten Sleman, Kegiatan Sosialisasi Peraturan Bupati Sleman Nomor 36 Tahun 2017 tentang Bantuan Bencana hari Selasa, 20 Maret 2018 di laksanakan di Aula OP ROOM Pemkab. Sleman. Dalam acara sosialisasi ini dihadiri Dukuh se Kecamatan Depok. Sosialisasi ini merupakan rangkaian kegiatan sosialisasi Peraturan Perundang-undangan yang sebelumnya juga sudah dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2018 di tempat yang sama dengan mengundang Dukuh-dukuh di wilayah Kecamatan Gamping.  Aca ra tersebut dipimpin oleh Bapak Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Sleman.

Peraturan Bupati ini di dalamnya mengatur bagaimana pengelolan dan mekanisme pemberian bantuan,  mekanisme pelaporan kejadian bencana dan jenis bantuan. Mekanisme pelaporan adanya kejadian di wilayah diharapkan melalui tata cara pelaporan yang benar, yaitu dari Desa melaporkan secara tertulis kepada Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman dengan tembusan kepada Camat, dan atau Camat melaporkan secara tertulis adanya kejadian bencana kepada Bupati dengan tembusan kepada Kepala Pelaksana BPBD.

Dari Beragam jenis ancaman bencana di Kabupaten Sleman, yang diatur dalam Perbup ini meliputi 5 (lima) jenis ancaman bencana. Meliputi ancaman bencana angin kencang, tanah longsor, banjir, petir dan kebakaran.

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan nantinya bisa menjadikan masyarakat di wilayah Kabupaten Sleman memahami bahwa dalam suatu kejadian musibah bencana alam di wilayah Kabupaten Sleman ada regulasi yang mengaturnya.

Meski Lemas Warsito Ditemukan Selamat

    Cangkringan. Setelah melalu proses pencarian yang panjang,  akhirnya Warsito (33) survivor yang di kabarkan hilang sejak Kamis (22/02/2018) berhasil di temukan oleh tim SAR gabungan di atas Srimanganti pada hari Minggu (25/02/2018) pada pukul 13.17 wib, sumber di posko Kinahrejo menyebutkan meski dalam keadaan lemas Warsito di temukan selamat dan butuh waktu hampir 3 jam untuk membawa survivor turun ke posko Kinahrejo mengingat kondisi alam dan cuaca saat proses evakuasi.

Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas,  TNI, Polri, BPBD Sleman, BPBD DIY,  BPBD Klaten, SAR Linmas, PMI,  SAR DIY dan komunitas relawan merasa lega atas di temukanya survivor, mengingat kemarin adalah hari ke 4 proses pencarian bahkan tiga SRU menginap di pos 2 sebelum paginya menemukan Warsito,  dan setelah di lakukan evakuasi Warsito langsung di masukkan ambulans yang sudah menunggu di pos Kinahrejo yang langsung di bawa ke RS. Panti Nugraha Pakem untuk mendapatkan perawatan lebih lanjud. “Dengan di ketemukanya Warsito, operasi SAR resmi di hentikan”, kata salah seorang anggota SAR yang enggan disebut namanya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya Warsito (33), menghilang dari kawasan wisata Kaliadem,  Kepuharjo, Cangkringan sejak Kamis (22/02/2018) dimana yang bersangkutan datang bersama istrinya Dwi Indri Astuti dengan kendaraan sepeda motor. Setelah makan di warung Warsito pamit istrinya untuk naik ke atas Bunker, tetapi lama di tunggu Warsito tidak juga kembali Indri sapaan akrab istri Warsito berinisiatif menyusul suaminya. Tetapi Indri tidak juga menemukan suaminya, bahkan menurut rombongan yang ditemui Indri mengatakan Warsito  mengarah ke utara (Merapi). (Tri)

Warsito saat di turunkan dari ambulans sesampainya di RS.Panti Nugraha

Hari Ke Tiga Tim SAR Gabungan Belum Temukan Warsito

    Cangkringan. Sampai hari ke tiga pencarian survivor Warsito (33) yang di kabarkan hilang di kawasan wisata Kaliadem , Kepuharjo, Cangkringan hari Kamis (22/02/2018) lalu tim SAR gabungan belum juga mendapatkan titik terang keberadaanya. Tim SAR yang terdiri dari Basarnas, TNI,  Polri, BPBD Sleman,  BPBD DIY, SAR Satlinmas, PMI, SAR DIY dan Komunitas Relawan yang terbagi menjadi 15 SRU dimana setiap SRU terdiri dari 10 orang  melakukan penyisiran di lereng selatan Merapi juga belum menemukan tanda tanda keberadaan Warsito.

Diperoleh informasi dari pos AJU yang di dirikan di Kinahrejo bahwa di jalur yang di lalui salah satu SRU menemukan bekas orang makan makanan ringan. “Soal penemuan sisa makanan ringan yang di temukan masih akan di analisa,  apakah itu benar sisa makanan dari saudara Warsito atau bukan”,  kata salah seorang relawan yang enggan disebut namanya. Sampai saat evaluasi selesai pun belum ada kepastian dimana posisi survivor Warsito berada.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya Warsito (33), menghilang dari kawasan wisata Kaliadem,  Kepuharjo, Cangkringan sejak Kamis (22/02/2018) dimana yang bersangkutan datang bersama istrinya Dwi Indri Astuti dengan kendaraan sepeda motor. Setelah makan di warung Warsito pamit istrinya untuk naik ke atas Bunker, tetapi lama di tunggu Warsito tidak juga kembali Indri sapaan akrab istri Warsito berinisiatif menyusul suaminya. Tetapi Indri tidak juga menemukan suaminya, bahkan menurut rombongan yang ditemui Indri mengatakan Warsito  mengarah ke utara (Merapi). (Tri)

Tim SAR gabungan masih terus menyusuri lereng Merapi mencari keberadaan Warsito yang di kabarkan hilang di kawasan wisata Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan pada Kamis (22/02/2018) lalu.

 

Dirikan Pos , Pencarian Pengunjung Kaliadem Dilanjudkan

          Cangkringan. Tim sar gabungan pagi ini (Jum’at 23/02/2018) kembali melakukan pencarian terhadap Warsito (33) pengunjung obyek wisata Kaliadem yang menghilang sejak kemarin (Kamis), untuk mendukung operasional dilapangan tim gabungan juga mendirikan pos di kawasan Bunker Kaliadem, sementara dari TAGANA Kab.Sleman membuka posko dapur umum  untuk menyuplai logistik untuk petugas danrelawan yang melakukan pencarian. Menurut koordinator TRC BPBD Sleman Sugiyanto Raharjo yang akrab di panggil GTO, posko akan didirikan  selama proses pencarian oleh tim gabungan masih berlangsung. “Siang ini 7 SRU di berangkatkan menyisir jalan dan lokasi yang dimungkinkan di lewati Warsito” tambahnya. Sedangkan unsur yang terlibat dalam operasi ini antara lain dari Basarnas Yogyakarta, BPBD Sleman, SAR Linmas, TNI, Polri, SAR DIY,pelaku wisata Kaliadem dan komunitas relawan.

Sebagaimana diketahui Warsito (33), menghilang dari kawasan wisata Kaliadem sejak kemarin dimana yang bersangkutan datang bersama istrinya Dwi Indri Astuti dengan kendaraan sepeda motor. Setelah makan di warung Warsito pamit istrinya untuk naik ke atas Bunker, tetapi lama di tunggu Warsito tidak juga kembali Indri sapaan akrab istri Warsito berinisiatif menyusul suaminya. Tetapi Indri tidak juga menemukan suaminya, bahkan menurut rombongan yang ditemui Indri mengatakan Warsito  mengarah ke utara (Merapi).

“Saya hanya meminta doa dari saudara semua agar suami saya di temukan dalam keadaan selamat “, kata Indri di posko pencarian. (Tri)

Tim SAR gabungan melakukan briefing sebelm melakukan pencarian terhadap salah seorang pengunjung obyek wisata Kaliadem yang menghilang sejak kemarin (Foto : Yulianto, TRC BPBD Sleman)

 

 

Gladi Lapang Sekolah Siaga Bencana ( SSB )dan Pengukuhan Tim Siaga Bencana Sekolah SMPN 4 Kalasan

Setelah SMAN 1 Ngemplak dan SDN Randusari telah melakukan gladi lapang pembentukan Sekolah Siaga Bencana dan pengukuhan tim siaga bencana, kini giliran SMPN 4 Kalasan yang melakukan Gladi serta pengukuhan Tim Siaga Bencana.yang dalam sambutan Bupati Sleman yang di bacakan oleh Bapak Mustai’n Aminun,SH, MSi Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Hukum Setda Kabupaten Sleman, mengatakan melalui kesempatan yang baik ini mengucapkan kepada kwluarga besar SMPN 4 Kalasan yang pada hari, Selasa,20 februari 2018 telah memiliki tim siaga bencana sekolah.dan di harapkan tim yang di kukuhkan ini dapat terus meningkatkan wawasan kebencanaan dan menjasi agen penanggulangan kebencanaan, tidak hanya di lingkungan sekolah namun juga di lingkungan masyarakat. Dengan terbentuknya SMPN 4 Kalasan sebagai swkolah siaga bencana maka di Sleman sudah terbentuk 49 sekolah siaga bencana. pada Tahun 2018 ini Sleman akan menargetkan terbentuknya 8 sekolah siaga bencana yang baru. Pembentukan sekolah siaga bencana sangat penting karena dalam setiap mitigasi bencana dibutuhkan partisipasi dari semua komponen masyarakat termasuk diantaranya adalah pelajar.Pelajar harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana dengan harapan kesiapsiagaan tersebut bermanfaat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa. Paradigma penanggulangan bencana , tidak lagi di titik beratkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan resiko bencana. Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya masyarakat Sleman.oleh karena itu Mitigaai bencana harus di kenalkan dan di ajarkan sejak di bangku sekolah, karena para siwa perlu di beri pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana.yang harapnya mampu menjadi agen maupun pelaku penanggulangan bencana yang secara aktif bisa mengerakan masyarakat di lingkungannya. Selain pembentukan sekilah siaga bencana, di Sleman juga sudah memiliki Desa Tangguh Bencana dan sampai saat ini ada 36 Desa yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sleman.dan si targetkan pada Tahun 2018 ini akan bertambah 8 Desa.

Ayo Kerja Bakti Massal, Jogja Kembali Tangguh

Sutopo Puwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, menulis pesan twitternya, @Sutopo_BNPB “ Ayo warga Yogyakarta. Kerja bakti massal untuk Yogya Bersih Kembali. Masyarakat yang kuat gotong royong, tangguh, kompak, toleransi dan kerja keras adalah jiwa masyarakat Yogya yang cepat melenting balik pascabencana. Bersihkan lingkungan agar menjadi lebih nyaman.”

Ajakan gotong royong massal ini telah bergaung sebagai respon dampak bencana angin kencang, banjir dan tanah longsor yang menimpa sejumlah titik di wilayah DI. Yogyakarta, termasuk Sleman. Dampak bencana akibat terpaan angin siklon cempaka tersebut, barangkali baru pertama kali dialami, sehingga mengherankan dan mengejutkan banyak pihak.

Bupati Sleman Drs Sri Purnomo, M. Si telah menetapkan kejadian tersebut sebagai keadaan darurat di wilayah Sleman. Bupati juga  memerintahkan kepada Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman untuk mengordinasikan Perangkat Daerah terkait, TNI-POLRI, unsur masyarakat dan dunia usaha dalam rangka menyusun program dan melaksanakan kegiatan tanggap darurat angin kencang, banjir dan tanah longsor di wilayah Kabupaten Sleman dalam masa keadaan darurat. Saat ini upaya penanganan masih terus berlangsung.

Sementara itu Pemda DI. Yogyakarta melalui BPBD DI Yogyakarta bakal mengoptimalkan seluruh komponen yang ada, untuk bahu-membahu dalam membantu sesama yang tengah tertimpa musibah. untuk mendukung percepatan penanganan pasca bencana. Terlebih selama ini masyarakat dan pemerintah Yogyakarta dikenal memiliki track record bagus, terkait ketangguhan dalam menangani bencana. Penanganan gempa bumi Bantul tahun 2006, kemudian erupsi Gunung Merapi tahun 2010, merupakan bukti nyata, yang diakui dunia.

“Peran serta masyarakat memang harus dioptimalkan. Melalui dorongan gerakan moral dan kegiatan bersama, yang berciri gotong royong, antar warga. Tidak bisa dipungkiri, selama ini, kearifan lokal warga Yogyakarta, sangat membantu proses penanganan dan pemulihan pasca bencana, dimana konsep gotong royong sudah ada dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Plt Kepala Pelaksana BPBD DIY, Krido Suprayitno.

Kegiatan  yang akan  dilangsungkan pada hari ini Minggu, 3 Desember 2017, di sejumlah titik terdampak bencana dan diberi jargon ‘Jogja Tangguh 2017’.

 

Masih Ditemukan Rekahan di Prambanan

 Hari ketiga Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana Bencana Angin Kencang, banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Sleman, masih ditemukan adanya rekahan bukit di depan Watu Payung, Sambirejo, Prambanan berpotensi longsor bila terjadi hujan cukup deras. Masyarakat sekitar kuatir akan terjadi longsoran dan berharap agar bisa di “jugrukke” dengan alat berat. Demikian hasil Evaluasi  Pelaksanaan Tanggap Darurat, Jum’at, 01 Desember 2017 di Posko Wukirharjo, yang dipimpin Camat Prambanan Eko Suhargono, S.IP.  

Selain ditemukan rekahan bukit, dalam evaluasi yang dihadiri perangkat desa, TNI Polri, TRC Sleman dan komunitas relawan itu juga masih ada laporan kejadian tanah amblas di Sambirejo dan perlu pembenahan talut. Jalan Mlakan – Gedang dan Jalan Kikis – Nglengkong terputus dan sudah ditinjau DPUPKP (Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman) Kabupaten Sleman. Rencana akan ditangani setelah musim hujan, untuk sementara Jalan Mlakan – Gedang ditutup. Jalan  Kabupaten Watugudeg di Gayamharjo yang amblas 150 meter  juga belum terkondisi, namun sudah dikoordinasikan dengan DPUPKP.  

Di Wukirharjo juga masih diteruskan pembersihan di Losari II RT 05 yang akan dilakukan secara manual dan membutuhkan 10 personil relawan ditambah dengan warga.

Penanganan pembersihan dan pengkondisian rumah warga yang terdampak bencana di lapangan menunjukan kemajuan yang cukup pesat. Ada sekitar 21 rumah warga di Gayamharjo dan 3 rumah di Sumberharjo yang sudah selesai dibersihkan dan dinilai aman untuk dihuni. Namun masih ada beberapa rumah yang masih perlu penanganan dan membutuhkan tambahan personel dan alat berat. Selain itu juga masih dibutuhkan bronjong sekitar 90 buah dan batu 75 kubik  / 20 rit.

Komandan Rayon Militer Prambanan, Capt. Inf. Sarjono yang juga hadir selaku Wakil Komandan Tanggap Darurat menyampaikan bahwa personil dari TNI dan Polri sudah siap untuk terjun membantu penanganan di lokasi-lokasi yang masih membutuhkan bantuan.

Sementara itu Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Makwan ST, MT menyampaikan bahwa BPBD Sleman masih melakukan inventarisasi rumah yang terdampak dan membutuhkan rehabilitasi dan rekonstruksi. Data yang ada saat ini ada sekitar 10 rumah yang membutuhkan relokasi. Jumlah ini akan diverifikasi dan dikoordinasikan lebih lanjut penanganannya. Untuk penanganan kerusakan rumah yang sifatnya darurat jika nilainya kecil bisa langsung dilaksanakan dan nantinya bisa tukar nota. Untuk teknisnya masih dipersiapkan oleh BPBD Kabupaten Sleman.

Untuk kebutuhan dasar para pengungsi yang jumlahnya meningkat menjadi 94 jiwa yakni 80 jiwa (19 KK) di Prambanan dan 14 jiwa (4 KK) di Mlati juga akan dipenuhi oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Sosial. Sedangkan pengungsi di Gamping yang berjumlah 3 jiwa (1 KK) sudah kembali ke rumahnya.

 

 

Update Jumlah Pengungsi Bencana Angin Kencang, Banjir dan Tanah Longsor

Data jumlah pengungsi bencana angin kencang, banjir dan tanah longsor di Kabupaten Sleman tahun 2017, tanggal 2 Desember 2017, update: 10.00.

 

DATA PENGUNGSI BENCANA ANGIN KENCANG, BANJIR DAN TANAH LONGSOR
TANGGAL 2 DESEMBER 2017              
JAM   : 10.00                
                   
No Kecamatan Desa Titik Pengungsian Jumlah KK Pengungsi
>5 tahun Balita Lansia Total Ket
1 Prambanan Bokoharjo 1 lokasi 3 KK 15 1 0 16  
    Sambirejo 2 lokasi 2 KK 7 0 0 7  
    Sumberharjo 6 lokasi 19 KK 43 1 8 52  
    Wukirharjo 2 lokasi 2 KK 4 0 1 5  
2 Mlati Sinduadi 4 lokasi 4 KK 14 0 0 14  
3 Gamping Trihanggo Sudah Pulang
Jumlah  15 lokasi 23 KK 83 2 9 94  

BPBD Sleman: Dahlia dan Cempaka Menjauh, Masyarakat Tetap Harus Waspada

Sumber: BMKG

BPBD Kabupaten Sleman menghimbau agar masyarakat harus tetap waspada, walaupun siklon tropis Dahlia dan Cempaka telah menjauh dari wilayah Indonesia.

Himbauan ini didasarkan pada pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dirilis Jumat (1/12/2017) malam, siklon tropis Dahlia dan Cempaka telah menjauh dari wilayah Indonesia. Meski demikian, BMKG tetap menghimbau masyarakat waspada potensi bencana yang timbul dari dampak cuaca musim penghujan saat ini.

Hasil pemantauan Stasiun Klimatologi BMKG, salah satu siklon tropis yakni Dahlia sempat terpantau berada di Samudera Hindia, tepatnya di sebelah selatan Jawa Tengah sekitar 10.2LS, 109.6BT, di 290 km selatan barat daya Cilacap. Namun, siklon tersebut berangsur menjauh ke arah Australia dengan kecepatan 95 kilometer per jam.

Siklon Dahlia mulai menjauh dari Indonesia tepatnya ke arah timur atau menuju Australia, dengan kecepatan maksimal 95 kilometer per jam. Dahlia sempat terpantau di selatan barat daya Cilacap namun kemudian menjauh ke  arah ke timur.

Meski telah melewati masa siklon Dahlia dan sebelumnya Cempaka, BMKG tetap mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai karena masih adanya peluang dampak cuaca di saat-saat ke depan. Hal ini karena masih adanya potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur hingga Bali.

Untuk itu masyarakat harus tetap waspada, potensi angin kencang lebih dari 37 km/jam di seluruh wilayah Pulau Jawa. Masyarakat harus mewaspadai juga  dampak ikutannya bisa seperti bencana banjir, longsor, angin kencang dan kenaikan gelombang laut.

BMKG melalui Stasiun Klimatologi saat ini juga menemukan bibit siklon tropis yakni 93W dan 97S di seputar Laut Andaman (utara Aceh) dan sebelah selatan Nusa Tenggara Timur (Samudera Hindia). Meski diketahui kedua siklon tersebut bergerak menjauhi Indonesia namun peningkatan siklon tersebut bakal menyebabkan hujan intensitas sedang hingga lebat di wilayah sebelah selatan NTT, Jawa, Bali, Lombok hingga Lampung. 

Secara umum, masyarakat dihimbau agar mewaspadai potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor. Mewaspadai kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang/roboh. Masyarakat dihimbau tidak berlindung di bawah pohon jika terjadi hujan disertai kilat/petir.

 

Update Data Pengungsi Bencana Angin Kencang, Banjir dan Tanah Longsor

Data jumlah pengungsi bencana angin kencang, banjir dan tanah longsor di Kabupaten Sleman tahun 2017, tanggal 1 Desember 2017, update: 13.00.

 

DATA PENGUNGSI BENCANA ANGIN KENCANG, BANJIR DAN TANAH LONGSOR
TANGGAL 1 DESEMBER 2017            
JAM   : 13.00              
                 
No Kecamatan Desa Titik Pengungsian Jumlah KK Pengungsi
>5 tahun Balita Lansia Total
1 Prambanan Bokoharjo 1 lokasi 3 KK 15 1 0 16
    Sambirejo 2 lokasi 2 KK 9 0 0 9
    Sumberharjo 4 lokasi 12 KK 33 0 2 35
    Wukirharjo 3 lokasi 3 KK 2 0 2 4
2 Mlati Sinduadi 4 lokasi 4 KK 14 0 0 14
3 Gamping Trihanggo 1 lokasi 1 KK 3 0 0 3
Jumlah  15 lokasi 25 KK 72 1 4 81