SLEMAN – Menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan akan memuncak dalam beberapa waktu ke depan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Rapat Koordinasi/Sarasehan Kesiapsiagaan Kedaruratan Perkiraan Puncak Musim Kemarau Tahun 2025 pada Kamis (7/8), bertempat di Ayem Ayem Resto, Sleman. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Raden Haris Martapa, S.E., MT., dan dihadiri oleh 49 peserta dari berbagai unsur penting, mulai dari BPBD DIY, TNI, Polri, OPD teknis, kapanewon serta kalurahan terdampak, hingga pengelola destinasi wisata yang berada di wilayah rawan kekeringan. Sarasehan ini menjadi ajang penting untuk menyamakan persepsi dan strategi dalam menghadapi potensi darurat yang ditimbulkan oleh musim kemarau. Selain menyampaikan perkiraan kondisi cuaca dan dampaknya, forum ini juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam penanganan kekeringan, distribusi air bersih, dan mitigasi gangguan terhadap aktivitas masyarakat, termasuk sektor pariwisata.
Dua narasumber dihadirkan untuk memperkuat pemahaman peserta yaitu dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Yogyakarta yang memaparkan materi tentang kesiapsiagaan dalam pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat saat puncak kemarau, serta BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta yang menjelaskan tentang prakiraan iklim kemarau serta dampaknya terhadap sektor pertanian dan risiko kekeringan.

Melalui kegiatan ini, BPBD Sleman menegaskan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini, agar dampak puncak musim kemarau dapat ditekan seminimal mungkin, serta memastikan koordinasi lintas sektor berjalan efektif ketika kondisi darurat terjadi.







Leave a Reply