Capaian SPM Penanggulangan Bencana Kebakaran

UPT Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sleman mengemban jenis pelayanan dasar Penanggulangan Bencana Kebakaran sesuai dengan Permendagri nomor 69 tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 62 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM). Disebutkan bahwa  jenis pelayanan dasar Penanggulangan Bencana Kebakaran  Bidang Pemerintahan Dalam Negeri di Kabupaten/Kota tersebut diukur dengan 4 indikator kinerja. 4 indikator tersebut adalah pertama Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran dengan nilai nasional 80% dengan batas waktu pencapaian tahun 2015.

Kedua, Indikator  Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) nilai nasional adalah 75 % dengan batas waktu pencapaian tahun 2015.). Ketiga, Persentase aparatur pemadam kebakaran  yang memenuhi standar kualifikasi dengan nilai nasional 85 % dengan batas waktu capaian 2015. Keempat, adalah indikator jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK ( Wilayah Manajemen Kebakaran) dengan nilai nasional 90% dan batas waktu pencapaian tahun 2015..

Capaian SPM

Untuk capaian SPM tahun 2013, indikator cakupan pelayanan bencana kebakaran di Kabupaten Sleman adalah 18,04 persen. Untuk rencana ke depan agar capaiannya meningkat atau setidaknya mendekati nilai nasional, UPT Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sleman akan mengembangkan 2 Wilayah Manajemen Kebakaran di Kecamatan Depok dan di Kecamatan Godean.

Selanjutnya, capaian Indikator Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) dari 64 kejadian selama tahun 2013, yang berada di Wilayah Manajemen Kebakaran  (WMK Beran) sejumlah 13 kejadian. Dari 13 kejadian tersebut ResponTime mencapai 100 persen.     Capaian inikator kedua ini telah melebih nilai nasional, namun berdasarkan analisis data hanya 13 kejadian kebakaran berada di dalam WMK, sedangkan sisanya 51 kejadian berada di luar WMK.

Ukuran dan luasan WMK ini mengikuti aturan dalam Permendagri 69 tahun 2012. Artinya, sebagian besar kejadian kebakaran masih berada di luar WMK atau masuk dalam wilayah yang belum terlindungi (unprotected area). Dengan demikian pengembangan WMK menjadi kebutuhan yang perlu segera direalisir.

Untuk indikator ketiga, yakni aparat pemadam kebakaran yang memenuhi kualifikasi berdasar sertifikasi standar yang dilegalisasi Kementerian Dalam Negeri, capainnya  24,24 persen atau baru ada 8 aparat dari 32 aparat Pemadam kebakaran di Sleman yang memenuhi kualifikasi sertifikasi standar. Secara bertahap akan diupayakan untuk meningkatkan jumlah personil pemadam kebakaran sleman  yang memenuhi standar sertifikasi dengan mengusulkan ke Badan Kepegawaian Daerah untuk mengirim personil mengikuti pendidikan dan latihan yang memenuhi standar. Disamping itu, tak kalah pentingnya adalah menjaga agar personil yang sudah memiliki kualifikasi sertifikasi tidak dimutasi atau dipindah.

Untuk indikator keempat, yakni jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK, saat ini berdasarkan Permendagri baru ada 3 unit mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK. Untuk WMK secara ideal di Sleman dibutuhkan 6 WMK. Dengan 3 unit mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter yang dimiliki maka capaianya 50 persen. Ke depan seiirng dengan rencana pengembangan 2 WMK, jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter ini masih perlu ditambah agar capainnya bisa mendekati nilai nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No announcement available or all announcement expired.