Jan 15

Capaian SPM Penanggulangan Bencana Kebakaran Tahun 2014

Sesuai dengan Permendagri nomor 69 tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 62 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), UPT Pemadam Kebakaran  BPBD Kabupaten Sleman mengemban jenis pelayanan dasar Penanggulangan Bencana Kebakaran. Disebutkan bahwa  jenis pelayanan dasar Penanggulangan Bencana Kebakaran  Bidang Pemerintahan Dalam Negeri di Kabupaten/Kota tersebut diukur dengan 4 indikator kinerja yang semuanya dengan batas waktu pencapaian tahun 2015.

4 indikator tersebut adalah 1). Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran dengan nilai nasional 80%. 2).  Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) nilai nasional adalah 75 %. 3). Persentase aparatur pemadam kebakaran  yang memenuhi standar kualifikasi dengan nilai nasional 85 %. 4). jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK ( Wilayah Manajemen Kebakaran) dengan nilai nasional 90%.

Capaian SPM dan Rencana ke Depan

Saat ini capaian SPM tahun 2014, untuk keempat indikator tersebut adalah sebagai berikut: pertama, cakupan pelayanan bencana kebakaran di Kabupaten Sleman adalah 18,04 persen. Hal ini berdasarkan pada luas wilayah potensi kebakaran  Kabupaten Sleman 554,35 Km² dan Wilayah Manajemen Kebakaran 5,6 Km². Untuk rencana ke depan agar capaiannya meningkat atau setidaknya mendekati nilai nasional, UPT Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sleman akan mengembangkan 2 Wilayah Manajemen Kebakaran di Kecamatan Depok dan di Kecamatan Godean. Langkah yang dilakukan adalah membuat perencanaan DED untuk Kantor Posko Pemadam Kebakaran di Kecamatan Depok dan Kecamatan Godean di tahun 2015. Sedangkan untuk pembangunan fisiknya akan direncanakan di tahun 2016.

Kedua, capaian Indikator Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) dari 90 kejadian selama tahun 2014, yang berada di Wilayah Manajemen Kebakaran  (WMK Beran) sejumlah 24 kejadian. Dari 24 kejadian tersebut ResponTime mencapai 100 persen.     Capaian indikator kedua ini telah melebih nilai nasional, namun berdasarkan analisis data hanya 24 ( 26,7%) kejadian kebakaran berada di dalam WMK, sedangkan sisanya 66 (73,3%) kejadian berada di luar WMK. Ukuran dan luasan WMK ini mengikuti aturan dalam Permendagri 69 tahun 2012. Artinya, sebagian besar kejadian kebakaran masih berada di luar WMK atau masuk dalam wilayah yang belum terlindungi (unprotected area). Dengan demikian pengembangan WMK menjadi kebutuhan yang perlu segera direalisir.

Ketiga, yakni persentase aparatur pemadam kebakaran yang memenuhi kualifikasi berdasar sertifikasi standar yang dilegalisasi Kementerian Dalam Negeri, capainnya  37,5 persen atau baru ada 12 aparat dari 32 aparat Pemadam kebakaran di Sleman yang memenuhi kualifikasi sertifikasi standar. Secara bertahap akan diupayakan untuk meningkatkan jumlah personil pemadam kebakaran sleman  yang memenuhi standar sertifikasi dengan mengusulkan ke Badan Kepegawaian Daerah untuk mengirim personil mengikuti pendidikan dan latihan yang memenuhi standar. Disamping itu, tak kalah pentingnya adalah menjaga agar personil yang sudah memiliki kualifikasi sertifikasi tidak dimutasi atau dipindah.

Untuk indikator keempat, yakni jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK, saat ini baru ada 3 unit mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK. Sedangkan untuk WMK secara ideal di Sleman dibutuhkan 6 WMK. Dengan kekuatan 3 unit mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter yang dimiliki tersebut maka capaianya 50 persen. Ke depan seiring dengan rencana pengembangan 2 WMK, jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter ini masih perlu ditambah agar capainnya bisa mendekati nilai nasional.

Dec 15

Kunjungan TK Indriyasana di Kantor UPT Pemadam Kebakaran Sleman

“Benda padat apa yang mudah terbakar anak-anak?” ” Kertas, baju,sampah, manusia.”

 Begitulah dialog antara Sugiarto, staf bagian penyuluhan UPT Pemadam Kebakaran Sleman dengan siswa-siswi TK Indriyasana, Jetis, Yogyakarta pada hari ini. Siswa pun sangat antusias menjawab semua pertanyaan yang diajukan Sugiarto  yang bertindak sebagai pemandu kegiatan dan sejumlah anggota regu piket UPT Pemadam Kebakaran Sleman.

Kunjungan TK Indriyasana, Jetis, Yogyakarta  ini diikuti 35 siswa siswi beserta 5 guru pendamping. Tiba di Kantor UPT Pemadam Kebakaran pukul 08.00 WIB. Selama mengikuti kegiatan anak-anak mendapat pengetahuan tentang bahaya kebakaran dengan cara yang sederhana  melalui perrmainan dan diselingi  dengan nyanyian.

Menurut Sugiarto kegiatan ini sebagai motivasi bagi siswa-siswi agar lebih giat belajar, disamping sebagai sarana penyuluhan tentang penanggulangan bahaya kebakaran bagi  guru dan orang tua siswa

cats

Dec 12

Kunjungan Wisata Edukatif SPS Tunas Wuni Mulia di UPT Pemadam Kebakaran Sleman

Hari ini, Jum’at, 12 Desember 2014 kembali Kantor UPT Pemadam Kebakaran Sleman mendapat kunjungan 45 siswa-siswi, orang tua  beserta  guru pendamping  TK SPS Tunas Wuni Mulia, Jl. Kaliurang Km.5 Karangwuni D-16, Caturtunggal, Depok, Sleman  . Rombongan tiba  di Kantor UPT  Pemadam Kebakaran Sleman pukul 08.00 WIB , di sambut oleh Sugiarto  selaku  staf UPT Pemadam Kebakaran  yang membidangi penyuluhan  dan sejumlah anggota regu piket Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman.

Menurut Sri Pamungkas, S.Pd , selaku kepala sekolah, maksud kunjungan ini adalah sebagai kegiatan wisata edukatif untuk menunjang proses belajar mengajar pada siswa.  Dalam kesempatan ini, kegiatan diisi dengan pengenalan  ketugasan Pemadam Kebakaran,  pengenalan  peralatan dan perlengkapan Pemadam Kebakaran dan  fun games atau permainan yang menghibur dan mengandung unsur pembelajaran. Meskipun hujan turun cukup deras, siswa-siswi antusias mengikuti seluruh kegiatan sampai selesai.

cats

Nov 21

Merokok Di Tempat Tidur, Surahmat Menjadi Korban Kebakaran

Surahmat (48) yang dikenal biasa merokok sambil tiduran di tempat tidur menjadi korban kebakaran sebuah rumah milik Rahmat Mulyo Pawiro (75) di Murangan 7, RT 01 RW 22, Triharjo, Sleman. Diduga korban sedang merokok dan puntung rokoknya jatuh ke tempat tidur, sehingga menyebabkan kebakaran.

Laporan kebakaran yang terjadi Kamis, 20 November 2014, diterima Posko PBK BPBD Kabupaten Sleman dari tetangga korban Sukirno, pukul 09.05 . Mobil kebakaran sempat kesulitan untuk mendekati lokasi karena terhambat gapura masuk yang terlalu pendek. Sampai lokasi Petugas Kebakaran  segera melakukan pemadaman.

Saat tiba di lokasi api masih berkobar dan asap hitam mengepul ke udara.  Setelah berjibaku dibantu warga sekitar, api akhirnya dapat dipadamkan.

Warga sekitar yang merasa yakin korban masih berada di dalam rumah segera melakukan pencarian. Korban yang disebutkan oleh warga mengalami keterbelakangan mental, ditemukan tidak berada di lokasi tempat tidur, tetapi berada di dekat tumpukan kayu dalam kondisi tewas terpanggang.

Petugas Kebakaran Tengah Memadamkan Api

Petugas Kebakaran Tengah Memadamkan Api

Nov 05

Siswa TK IT Al Furqon Dikenalkan Alat Pemadam Kebakaran

Hari ini,  UPT Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Sleman menerima kunjungan 54 siswa-siswi  dan guru pendamping TK IT Al Furqon, Penen, Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Rombongan tiba  di Kantor UPT  Pemadam Kebakaran kabupaten Sleman pukul 08.30 WIB , diterima Sugiarto, selaku staf UPT Pemadam Kebakaran kabupaten Sleman yang membidangi penyuluhan dan sejumlah anggota Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman .

Kegiatan di isi dengan pengenalan  ketugasan Pemadam Kebakaran,  pengenalan  peralatan dan perlengkapan Pemadam Kebakaran dan  fun games atau permainan yang menghibur dan mengandung unsur pembelajaran

Sampai hari ini kunjungan siswa-siswi Play Group maupun Taman Kanak-kanak dari wilayah Sleman  dan sekitarnya ke kantor UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman mencapai 18 kali. Hal ini merupakan suatu kesempatan bagi UPT Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Sleman untuk melakukan penyuluhan  penanggulangan bahaya kebakaran bagi guru dan orang tua murid, di samping sebagai  pengenalan dan pembinaan sejak dini bagi siswa-siswi.

cats

Oct 17

Musim Kemarau, Kebakaran di Sleman Meningkat

Sampai hari ini, Jum’at 17 Oktober 2014 UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman telah menangani 68 kejadian kebakaran. Dari jumlah tersebut 27 kejadian kebakaran terjadi pada bulan September sampai hari ini sehingga terjadi peningkatan kejadian kebakaran yang cukup signifikan . Dari 27 kejadian, 13 kejadian merupakan kebakaran lahan, 9 kejadian kebakaran tempat usaha dan 5 kejadian kebakaran rumah tinggal dengan penyebab terbanyak akibat  rembetan api dari tempat sampah maupun tungku kayu.

Memasuki musim penghujan pada bulan Oktober ini , Drs. Ismu Achmad Widodo selaku Kepala UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman  menghimbau masarakat untuk lebih berhati-hati karena perubahan cuaca yang ekstrim sering menyebabkan kejadian alam yang dapat menimbulkan kejadian kebakaran.

Bilamana terjadi pemadaman listrik, tempatkan lampu penerangan darurat (lilin, petromak,lampu teplok) dengan aman, mewaspadai hewan piaraan maupun hewan liar yang sewaktu-waktu dapat mengganggu instalasi listrik maupun lampu penerangan darurat, menghindari penyimpanan bahan mudah terbakar dengan cara sembarangan, perencanaan instalasi listrik yang benar termasuk cara penyambungan maupun penggunaannya, dan yang tidak kalah penting dengan menyiapkan alat pemadam api yang tepat guna, tepat media, efisien dan ekonomis. Apabila terjadi kebakaran segera hubungi Posko Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman Telp. (0274) 868-351, atau (0274)  8300-300 tanpa dipungut biaya.

Kebakaran di Dukuh, Pondokrejo, Tempel akibat rembetan api dari tungku kayu

 

Oct 16

Banjir Lahar Hujan Jebol Tanggul, 11 Warga Luka-Luka

Banjir lahar lahar hujan Merapi  menjebol  tanggul Pojok Suruh Sungai Gendol, Argomulyo, Cangkringan dan masuk ke pemukiman warga. Sirene EWS meraung-raung, warga yang masih bertahan di rumah-rumah segera menyelamatkan diri ke area yang lebih aman di titik kumpul.  Sedikitnya 11 korban terluka saat berupaya menyelamatkan diri. Kesebelas korban tersebut mengalami luka-luka 5 orang, patah kaki 2, patah tangan 2 orang, patah leher 1 orang dan sesak napas 1 orang. Korban dilarikan ke rumah sakit terdekat seperti RS Sardjito, RSUD Morangan dan RS Panti Nugroho.

Sebelum kejadian sudah ada perintah dari Kepala Desa Argomulyo agar Desa Tangguh Bencana Argomulyo untuk membunyikan EWS siaga 1 dan melakukan evakuasi semua warga karena laporan pantauan Gunung Merapi menyebutkan puncak hujan sangat lebat. Sementara ketinggian air sudah mencapai 3/4 dari mercu Dam Manggong dan terjadi aliran besar. Tanggul Pojok Suruh dalam kondisi kritis.

Itulah gambaran Simulasi Gladi Lapang Banjir Lahar Hujan Sungan Gendol Opak yang diselenggarakan oleh BPBD Kabupaten Sleman, 16 Oktober 2014, di lapangan Jetis, Argomulyo, Cangkringan. Kegiatan ini untuk melatih masyarakat agar selalui siap dan tahu apa yang harus dilakukan bila terjadi bencana banjir lahar hujan.

Hadir pada kesempatan tersebut Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu, SS, M.Hum, yang menyaksikan simulasi gladi lapang yang diikuti warga Argomulyo, RAPI Sleman, Tagana Sleman, PMI Sleman dan relawan.

Dalam pengarahannya antara lain Wakil Bupati menyoroti warga dan relawan yang saat simulasi banyak yang duduk di pinggir di bibir kendaraan pick up. Menurutnya,ini sangat beresiko terjadinya kecelakaan, sehingga ia berpesan untuk duduk di bawah saja. “Kalau kejadian sungguhan tentunya kendaraan akan melaju cepat, ini sangat berbahaya,: katanya..

Wakil Bupati juga berpesan agar warga memahami perubahan status banjir lahar hujan, yang berbeda dengan status Gunung Merapi. Termasuk dalam memahami bunyi sirene EWS yang berubah sesuai dengan status banjir lahar hujan.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Drs. H. Julisetiono Dwi Wasito, SH, MM, menyampaikan bahwa dari 41 dusun yang rawan banjir lahar hujan di Sleman, 14 dusun diantaranya ada di Desa Argomulyo. Hal ini menuntut kesiapsiagaan dari masyarakat di sekitar alur Sungai Gendol, termasuk Desa Argomulyo.

IMG_2805 IMG_2809 IMG_2848 IMG_2836 IMG_2773IMG_2812

Oct 15

Wajib Latih Untuk Tingkatkan Kapasitas Masyarakat

Upaya peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat terus dilakukan BPBD Kabupaten Sleman. Salah satunya melalui kegiatan wajib latih yang berlangsung dari tanggal 13 – 14 Oktober 2014 di Desa Argomulyo, Cangkringan. Kegiatan ini diikuti 30 orang peserta yang berasal dari perangkat desa, PKK, Karang Taruna, Komunitas Peduli Bencana dan kepala dusun.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang potensi bencana, meningkatkan kesadaran akan resiko dan meningkatkan ketrampilan masyarakat dalam melindungi diri sendiri, keluarga maupun anggota masyarakat lainnya apabila terjadi bencana.

Materi yang diberikan adalah kebijakan Pemkab Sleman dalam penanganan bencana, tinjauan klimatologis banjir lahar hujan, anacaman pasca erupsi merapi dan karateristik morfologi sungai, rencana kontinjensi banjir lahar hujan dan manajemen Pertolongan Pertama Gawat Darurat.. Untuk narasumber berasal dari BMKG, PMI Sleman dan BPBD Kabupaten Sleman.

Setelah kegiatan wajib latih ini akan dilanjutkan dengan  gladi lapang banjir lahar hujan Sungai Gendol yang rencananya akan dilaksanakan Kamis, 16 Oktober 2014 di Lapangan Jetis, Argomulyo, Cangkringan.

IMG_2693IMG_2714

 

Oct 03

BPBD Kabupaten Sleman Laksanakan Gladi Posko Bencana Gempa Bumi

          BPBD Kabupaten Sleman bersama dengan BPBD di seluruh wilayah DIY serentak melaksanakan kegiatan Gladi Posko Penanggulangan Bencana Gempa Bumi pada hari Selasa, 30 September 2014 pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan dengan anggaran dari BPBD DIY. Lokasi gladi posko di masing-masing kantor BPBD. Namun, gladi posko di Kabupaten Sleman bertempat di Posko Utama Pakem, yang merupakan gedung yang biasanya digunakan untuk Posko Penanggulangan Bencana Gunung Merapi. Ruangan yang dipakai untuk gladi posko berada di ruang rapat lantai 2 di Posko Utama Pakem yang ditata sedemikian rupa menyerupai Ruang Pos Komando Tanggap Darurat. Gladi Posko di Kabupaten Sleman ini melibatkan sejumlah 36 personil dari instansi terkait, diantaranya: Sat Pol PP, Kodim 0732 Sleman, Polres Sleman, SAR Sleman, RAPI Sleman, PMI Sleman, Tagana Sleman, Bagian Humas, Dinas PUP, Dinas Kesehatan, Dinas Hubkominfo, Kecamatan Berbah, Kecamatan Kalasan, dan Kecamatan Prambanan. Setiap pelaku gladi posko difasilitasi rompi dari BPBD DIY yang bertuliskan nama instansi/organisasi masing-masing.

Penataan ruangan pelaksanaan Gladi Posko Gempa BumiPenataan ruangan pelaksanaan Gladi Posko Gempa Bumi

         Berdasarkan Buku Pedoman Gladi yang dibagikan kepada peserta, maksud dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan taktis aparat penanggulangan bencana semua Pusdalops di wilayah DIY. Format gladi yang digunakan adalah latihan unsur pimpinan/ pengambil keputusan tanpa pasukan dengan bentuk diskusi. Skenario gladi posko yang digunakan sama dengan kejadian gempa bumi yang terjadi di DIY dan sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006. Kendali jalannya gladi posko di tangan Direktur Latihan yang berada di Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD DIY. Pelaku gladi posko di masing-masing Kabupaten/Kota bertugas melaksanakan peran sesuai skenario gladi dan merespon pesan (inject) yang diberikan oleh Direktur Latihan.

        Jalannya gladi posko dimulai tepat pukul 09.00 WIB ditandai dengan bunyi sirine. Direktur Latihan memberitahukan informasi dari BMKG terjadinya gempa bumi berkekuatan 6,3 SR pada 25 KM sebelah barat daya Kota Yogyakarta dengan kedalaman 10 KM yang diasumsikan terjadi pada hari Sabtu 27 Mei 2015 pukul 05.53 WIB. Pelaku Gladi Posko di Kabupaten Sleman harus merespon pengumuman kejadian gempa tersebut sesuai dengan skenario gladi yang telah dibagikan. Tahapan adegan yang dilakukan oleh pelaku gladi posko di Kabupaten Sleman, diantaranya: diseminasi informasi gempa bumi, koordinasi laporan dampak bencana dengan kecamatan terdampak, penugasan Tim Reaksi Cepat untuk kaji cepat, penyiapan rekomendasi penetapan status bencana, penetapan status bencana oleh Bupati, dan pembentukan Komando Tanggap Darurat, serta penentuan struktur dan personil Komando. Berdasarkan Keputusan Bupati Sleman ditetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari dan ditetapkan Komandan Tanggap Darurat adalah Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman.

Camat Prambanan melaporkan dampak bencana gempa bumi di wilayahnya melalui HT kepada Komandan Tanggap Darurat

Camat Prambanan melaporkan dampak bencana gempa bumi di wilayahnya melalui HT kepada Komandan Tanggap Darurat

Kemudian, Direktur Latihan memberikan pesan (inject) melalui email bpbd@slemankab.go.id yang harus direspon oleh para pelaku Gladi Posko di masing-masing Kabupaten/Kota di DIY. Pesan itu misalnya: “Dinsos Kab/Kota memberitahukan bahwa telah menerima laporan dari warga bahwa di 4 titik pengungsian terdapat sekitar 20 warga yang difable dan memerlukan pemenuhan kebutuhan khusus”. Kemudian, Komandan Tanggap Darurat di Kabupaten Sleman merespon informasi ini berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penyiapan kebutuhan khusus kelompok rentan di 4 titik tersebut.

Komandan Tanggap Darurat bersama Kepala Bidang Operasi berkoordinasi dengan instansi terkait merespon pesan dari Direktur Latihan

Komandan Tanggap Darurat bersama Kepala Bidang Operasi berkoordinasi dengan instansi terkait merespon pesan dari Direktur Latihan

Pelaksanaan gladi posko di Kabupaten Sleman sangat terbantu dengan adanya Peta Amplifikasi Tanah di Kabupaten Sleman. Peta Amplifikasi adalah peta yang menggambarkan besarnya amplifikasi tanah di suatu tempat sebagai respon signal gempa bumi. Peta Amplifikasi yang dibuat tahun 2008 ini menjadi pedoman untuk mengetahui wilayah-wilayah yang terdampak bencana gempa bumi. Dalam Peta Amplifikasi tersebut dibagi menjadi 4 wilayah, yaitu wilayah dengan amplifikasi: rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Semakin tinggi tingkat amplifikasi, semakin besar tingkat kerusakan akibat gempa bumi. Wilayah Kabupaten Sleman yang memiliki amplifikasi tinggi hingga sangat tinggi banyak terdapat di wilayah Kecamatan Kecamatan Prambanan, Kalasan, dan Berbah. Oleh karena itu, pada kejadian gempa bumi tahun 2006 tingkat kerusakan di wilayah Kecamatan Prambanan, Kalasan, dan Berbah lebih parah dibanding wilayah kecamatan lainnya. Peta Amplifikasi pada pelaksanaan gladi posko ini ditindaklanjuti dengan pembuatan Peta Operasi berdasarkan wilayah yang benar-benar terdampak.

Komandan Tanggap Darurat bersama perwakilan instansi terkait menentukan wilayah operasi pada peta yang sudah tersedia

Komandan Tanggap Darurat bersama perwakilan instansi terkait menentukan wilayah operasi pada peta yang sudah tersedia

Setelah Direktur Latihan menyatakan Gladi Posko telah selesai tepat pukul 14.00 WIB, para pelaku gladi posko di Kabupaten Sleman melakukan evaluasi terhadap jalannya gladi posko. Beberapa hal yang dievaluasi, antara lain:

  1. Pesan yang disampaikan oleh Direktur Latihan seringkali tidak jelas dan ada yang tidak logis, sehingga Kabupaten/Kota kesulitan merespon.
  2. Pada skenario gladi yang dibagikan belum jelas peran masing-masing instansi terkait
  3. Mekanisme penyampaian respon dari Kabupaten/Kota terhadap pesan yang disampaikan Direktur Latihan tidak jelas

Meskipun ada beberapa hal yang perlu dievaluasi, para pelaku gladi posko secara umum mengapresiasi pelaksanaan gladi dan menyarankan agar pelaksanaan gladi dapat dilakukan lebih sering.

 

 

 

 

Sep 18

Wakil Bupati Resmikan Sekolah Siaga Bencana

Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, SS, M.Hum, meresmikan SDN Umbulharjo 2 dan SDN Kepuharjo Cangkringan  sebagai Sekolah Siaga Bencana (SSB), di SDN Umbulharjo Selasa 16 September 2014.  Hadir pada kesempataan tersebut antara lain Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Drs. H. Julisetiono Dwi Wasito, SH,MM, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Ir. Gatot Saptadi,  Muspika kecamatan Cangkringan,  Kepala Desa  Umbulharjo dan Kepala Desa Wukirsari, Cangkringan.

Yuni Satia Rahayu menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, dibalik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Sleman menyimpan potensi bencana yang diakibatkan faktor alam maupun non alam.

“Pada tahun 2010 yang lalu, kita semua merasakan bagaimana dasyatnya erupsi Gunung Merapi, yang kemudian diikuti oleh banjir lahar hujan yang terus mengancam sampai saat ini. Beberapa saat yang lalu, sebagian masyarakat Sleman juga terkena angin puting beliung yang juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Untuk itu, Saya berharap agar semua elemen masyarakat di Kabupaten Sleman mengerti dan memahami bagaimana menanggulani bencana dan menjadi tangguh dalam mitigasi dan penanganan bencana,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa menghadapi fenomena bencana yang makin luas dan kompleks, sesuai Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, harus menyelenggarakan, bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, Tetapi juga pada pra bencana dan pasca bencana. Paradigma penanggulangn bencana, tidak lagi di titik beratkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan resiko bencana, menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat termasuk sekolah.

Pemerintah Kabupaten Sleman juga akan terus mengembangkan SSB di wilayah yang memiliki potensi bencana. Untuk saat ini tercatat telah ada 6 SSB, yakni SMK Nasional Berbah, SMK Muhammadiyah Cangkringan, SMP N 1 Cangkringan, SMK N 1 Cangkringan, SD N Umbulharjo 2 dan SD N Kepuharjo, Cangkringan.

Disamping meresmikan 2 SSB tersebut, Yuni Satia Rahayu juga menyaksikan  simulasi menghadapi bencana yang diikuti siswa dan guru.

IMG_2281IMG_2288  IMG_2374IMG_2376

Older posts «