Oct 17

Musim Kemarau, Kebakaran di Sleman Meningkat

Sampai hari ini, Jum’at 17 Oktober 2014 UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman telah menangani 68 kejadian kebakaran. Dari jumlah tersebut 27 kejadian kebakaran terjadi pada bulan September sampai hari ini sehingga terjadi peningkatan kejadian kebakaran yang cukup signifikan . Dari 27 kejadian, 13 kejadian merupakan kebakaran lahan, 9 kejadian kebakaran tempat usaha dan 5 kejadian kebakaran rumah tinggal dengan penyebab terbanyak akibat  rembetan api dari tempat sampah maupun tungku kayu.

Memasuki musim penghujan pada bulan Oktober ini , Drs. Ismu Achmad Widodo selaku Kepala UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman  menghimbau masarakat untuk lebih berhati-hati karena perubahan cuaca yang ekstrim sering menyebabkan kejadian alam yang dapat menimbulkan kejadian kebakaran.

Bilamana terjadi pemadaman listrik, tempatkan lampu penerangan darurat (lilin, petromak,lampu teplok) dengan aman, mewaspadai hewan piaraan maupun hewan liar yang sewaktu-waktu dapat mengganggu instalasi listrik maupun lampu penerangan darurat, menghindari penyimpanan bahan mudah terbakar dengan cara sembarangan, perencanaan instalasi listrik yang benar termasuk cara penyambungan maupun penggunaannya, dan yang tidak kalah penting dengan menyiapkan alat pemadam api yang tepat guna, tepat media, efisien dan ekonomis. Apabila terjadi kebakaran segera hubungi Posko Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman Telp. (0274) 868-351, atau (0274)  8300-300 tanpa dipungut biaya.

Kebakaran di Dukuh, Pondokrejo, Tempel akibat rembetan api dari tungku kayu

 

Oct 16

Banjir Lahar Hujan Jebol Tanggul, 11 Warga Luka-Luka

Banjir lahar lahar hujan Merapi  menjebol  tanggul Pojok Suruh Sungai Gendol, Argomulyo, Cangkringan dan masuk ke pemukiman warga. Sirene EWS meraung-raung, warga yang masih bertahan di rumah-rumah segera menyelamatkan diri ke area yang lebih aman di titik kumpul.  Sedikitnya 11 korban terluka saat berupaya menyelamatkan diri. Kesebelas korban tersebut mengalami luka-luka 5 orang, patah kaki 2, patah tangan 2 orang, patah leher 1 orang dan sesak napas 1 orang. Korban dilarikan ke rumah sakit terdekat seperti RS Sardjito, RSUD Morangan dan RS Panti Nugroho.

Sebelum kejadian sudah ada perintah dari Kepala Desa Argomulyo agar Desa Tangguh Bencana Argomulyo untuk membunyikan EWS siaga 1 dan melakukan evakuasi semua warga karena laporan pantauan Gunung Merapi menyebutkan puncak hujan sangat lebat. Sementara ketinggian air sudah mencapai 3/4 dari mercu Dam Manggong dan terjadi aliran besar. Tanggul Pojok Suruh dalam kondisi kritis.

Itulah gambaran Simulasi Gladi Lapang Banjir Lahar Hujan Sungan Gendol Opak yang diselenggarakan oleh BPBD Kabupaten Sleman, 16 Oktober 2014, di lapangan Jetis, Argomulyo, Cangkringan. Kegiatan ini untuk melatih masyarakat agar selalui siap dan tahu apa yang harus dilakukan bila terjadi bencana banjir lahar hujan.

Hadir pada kesempatan tersebut Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu, SS, M.Hum, yang menyaksikan simulasi gladi lapang yang diikuti warga Argomulyo, RAPI Sleman, Tagana Sleman, PMI Sleman dan relawan.

Dalam pengarahannya antara lain Wakil Bupati menyoroti warga dan relawan yang saat simulasi banyak yang duduk di pinggir di bibir kendaraan pick up. Menurutnya,ini sangat beresiko terjadinya kecelakaan, sehingga ia berpesan untuk duduk di bawah saja. “Kalau kejadian sungguhan tentunya kendaraan akan melaju cepat, ini sangat berbahaya,: katanya..

Wakil Bupati juga berpesan agar warga memahami perubahan status banjir lahar hujan, yang berbeda dengan status Gunung Merapi. Termasuk dalam memahami bunyi sirene EWS yang berubah sesuai dengan status banjir lahar hujan.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Drs. H. Julisetiono Dwi Wasito, SH, MM, menyampaikan bahwa dari 41 dusun yang rawan banjir lahar hujan di Sleman, 14 dusun diantaranya ada di Desa Argomulyo. Hal ini menuntut kesiapsiagaan dari masyarakat di sekitar alur Sungai Gendol, termasuk Desa Argomulyo.

IMG_2805 IMG_2809 IMG_2848 IMG_2836 IMG_2773IMG_2812

Oct 15

Wajib Latih Untuk Tingkatkan Kapasitas Masyarakat

Upaya peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat terus dilakukan BPBD Kabupaten Sleman. Salah satunya melalui kegiatan wajib latih yang berlangsung dari tanggal 13 – 14 Oktober 2014 di Desa Argomulyo, Cangkringan. Kegiatan ini diikuti 30 orang peserta yang berasal dari perangkat desa, PKK, Karang Taruna, Komunitas Peduli Bencana dan kepala dusun.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang potensi bencana, meningkatkan kesadaran akan resiko dan meningkatkan ketrampilan masyarakat dalam melindungi diri sendiri, keluarga maupun anggota masyarakat lainnya apabila terjadi bencana.

Materi yang diberikan adalah kebijakan Pemkab Sleman dalam penanganan bencana, tinjauan klimatologis banjir lahar hujan, anacaman pasca erupsi merapi dan karateristik morfologi sungai, rencana kontinjensi banjir lahar hujan dan manajemen Pertolongan Pertama Gawat Darurat.. Untuk narasumber berasal dari BMKG, PMI Sleman dan BPBD Kabupaten Sleman.

Setelah kegiatan wajib latih ini akan dilanjutkan dengan  gladi lapang banjir lahar hujan Sungai Gendol yang rencananya akan dilaksanakan Kamis, 16 Oktober 2014 di Lapangan Jetis, Argomulyo, Cangkringan.

IMG_2693IMG_2714

 

Oct 03

BPBD Kabupaten Sleman Laksanakan Gladi Posko Bencana Gempa Bumi

          BPBD Kabupaten Sleman bersama dengan BPBD di seluruh wilayah DIY serentak melaksanakan kegiatan Gladi Posko Penanggulangan Bencana Gempa Bumi pada hari Selasa, 30 September 2014 pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan dengan anggaran dari BPBD DIY. Lokasi gladi posko di masing-masing kantor BPBD. Namun, gladi posko di Kabupaten Sleman bertempat di Posko Utama Pakem, yang merupakan gedung yang biasanya digunakan untuk Posko Penanggulangan Bencana Gunung Merapi. Ruangan yang dipakai untuk gladi posko berada di ruang rapat lantai 2 di Posko Utama Pakem yang ditata sedemikian rupa menyerupai Ruang Pos Komando Tanggap Darurat. Gladi Posko di Kabupaten Sleman ini melibatkan sejumlah 36 personil dari instansi terkait, diantaranya: Sat Pol PP, Kodim 0732 Sleman, Polres Sleman, SAR Sleman, RAPI Sleman, PMI Sleman, Tagana Sleman, Bagian Humas, Dinas PUP, Dinas Kesehatan, Dinas Hubkominfo, Kecamatan Berbah, Kecamatan Kalasan, dan Kecamatan Prambanan. Setiap pelaku gladi posko difasilitasi rompi dari BPBD DIY yang bertuliskan nama instansi/organisasi masing-masing.

Penataan ruangan pelaksanaan Gladi Posko Gempa BumiPenataan ruangan pelaksanaan Gladi Posko Gempa Bumi

         Berdasarkan Buku Pedoman Gladi yang dibagikan kepada peserta, maksud dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan taktis aparat penanggulangan bencana semua Pusdalops di wilayah DIY. Format gladi yang digunakan adalah latihan unsur pimpinan/ pengambil keputusan tanpa pasukan dengan bentuk diskusi. Skenario gladi posko yang digunakan sama dengan kejadian gempa bumi yang terjadi di DIY dan sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006. Kendali jalannya gladi posko di tangan Direktur Latihan yang berada di Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD DIY. Pelaku gladi posko di masing-masing Kabupaten/Kota bertugas melaksanakan peran sesuai skenario gladi dan merespon pesan (inject) yang diberikan oleh Direktur Latihan.

        Jalannya gladi posko dimulai tepat pukul 09.00 WIB ditandai dengan bunyi sirine. Direktur Latihan memberitahukan informasi dari BMKG terjadinya gempa bumi berkekuatan 6,3 SR pada 25 KM sebelah barat daya Kota Yogyakarta dengan kedalaman 10 KM yang diasumsikan terjadi pada hari Sabtu 27 Mei 2015 pukul 05.53 WIB. Pelaku Gladi Posko di Kabupaten Sleman harus merespon pengumuman kejadian gempa tersebut sesuai dengan skenario gladi yang telah dibagikan. Tahapan adegan yang dilakukan oleh pelaku gladi posko di Kabupaten Sleman, diantaranya: diseminasi informasi gempa bumi, koordinasi laporan dampak bencana dengan kecamatan terdampak, penugasan Tim Reaksi Cepat untuk kaji cepat, penyiapan rekomendasi penetapan status bencana, penetapan status bencana oleh Bupati, dan pembentukan Komando Tanggap Darurat, serta penentuan struktur dan personil Komando. Berdasarkan Keputusan Bupati Sleman ditetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari dan ditetapkan Komandan Tanggap Darurat adalah Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman.

Camat Prambanan melaporkan dampak bencana gempa bumi di wilayahnya melalui HT kepada Komandan Tanggap Darurat

Camat Prambanan melaporkan dampak bencana gempa bumi di wilayahnya melalui HT kepada Komandan Tanggap Darurat

Kemudian, Direktur Latihan memberikan pesan (inject) melalui email bpbd@slemankab.go.id yang harus direspon oleh para pelaku Gladi Posko di masing-masing Kabupaten/Kota di DIY. Pesan itu misalnya: “Dinsos Kab/Kota memberitahukan bahwa telah menerima laporan dari warga bahwa di 4 titik pengungsian terdapat sekitar 20 warga yang difable dan memerlukan pemenuhan kebutuhan khusus”. Kemudian, Komandan Tanggap Darurat di Kabupaten Sleman merespon informasi ini berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penyiapan kebutuhan khusus kelompok rentan di 4 titik tersebut.

Komandan Tanggap Darurat bersama Kepala Bidang Operasi berkoordinasi dengan instansi terkait merespon pesan dari Direktur Latihan

Komandan Tanggap Darurat bersama Kepala Bidang Operasi berkoordinasi dengan instansi terkait merespon pesan dari Direktur Latihan

Pelaksanaan gladi posko di Kabupaten Sleman sangat terbantu dengan adanya Peta Amplifikasi Tanah di Kabupaten Sleman. Peta Amplifikasi adalah peta yang menggambarkan besarnya amplifikasi tanah di suatu tempat sebagai respon signal gempa bumi. Peta Amplifikasi yang dibuat tahun 2008 ini menjadi pedoman untuk mengetahui wilayah-wilayah yang terdampak bencana gempa bumi. Dalam Peta Amplifikasi tersebut dibagi menjadi 4 wilayah, yaitu wilayah dengan amplifikasi: rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Semakin tinggi tingkat amplifikasi, semakin besar tingkat kerusakan akibat gempa bumi. Wilayah Kabupaten Sleman yang memiliki amplifikasi tinggi hingga sangat tinggi banyak terdapat di wilayah Kecamatan Kecamatan Prambanan, Kalasan, dan Berbah. Oleh karena itu, pada kejadian gempa bumi tahun 2006 tingkat kerusakan di wilayah Kecamatan Prambanan, Kalasan, dan Berbah lebih parah dibanding wilayah kecamatan lainnya. Peta Amplifikasi pada pelaksanaan gladi posko ini ditindaklanjuti dengan pembuatan Peta Operasi berdasarkan wilayah yang benar-benar terdampak.

Komandan Tanggap Darurat bersama perwakilan instansi terkait menentukan wilayah operasi pada peta yang sudah tersedia

Komandan Tanggap Darurat bersama perwakilan instansi terkait menentukan wilayah operasi pada peta yang sudah tersedia

Setelah Direktur Latihan menyatakan Gladi Posko telah selesai tepat pukul 14.00 WIB, para pelaku gladi posko di Kabupaten Sleman melakukan evaluasi terhadap jalannya gladi posko. Beberapa hal yang dievaluasi, antara lain:

  1. Pesan yang disampaikan oleh Direktur Latihan seringkali tidak jelas dan ada yang tidak logis, sehingga Kabupaten/Kota kesulitan merespon.
  2. Pada skenario gladi yang dibagikan belum jelas peran masing-masing instansi terkait
  3. Mekanisme penyampaian respon dari Kabupaten/Kota terhadap pesan yang disampaikan Direktur Latihan tidak jelas

Meskipun ada beberapa hal yang perlu dievaluasi, para pelaku gladi posko secara umum mengapresiasi pelaksanaan gladi dan menyarankan agar pelaksanaan gladi dapat dilakukan lebih sering.

 

 

 

 

Sep 18

Wakil Bupati Resmikan Sekolah Siaga Bencana

Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, SS, M.Hum, meresmikan SDN Umbulharjo 2 dan SDN Kepuharjo Cangkringan  sebagai Sekolah Siaga Bencana (SSB), di SDN Umbulharjo Selasa 16 September 2014.  Hadir pada kesempataan tersebut antara lain Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Drs. H. Julisetiono Dwi Wasito, SH,MM, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Ir. Gatot Saptadi,  Muspika kecamatan Cangkringan,  Kepala Desa  Umbulharjo dan Kepala Desa Wukirsari, Cangkringan.

Yuni Satia Rahayu menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, dibalik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Sleman menyimpan potensi bencana yang diakibatkan faktor alam maupun non alam.

“Pada tahun 2010 yang lalu, kita semua merasakan bagaimana dasyatnya erupsi Gunung Merapi, yang kemudian diikuti oleh banjir lahar hujan yang terus mengancam sampai saat ini. Beberapa saat yang lalu, sebagian masyarakat Sleman juga terkena angin puting beliung yang juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Untuk itu, Saya berharap agar semua elemen masyarakat di Kabupaten Sleman mengerti dan memahami bagaimana menanggulani bencana dan menjadi tangguh dalam mitigasi dan penanganan bencana,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa menghadapi fenomena bencana yang makin luas dan kompleks, sesuai Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, harus menyelenggarakan, bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, Tetapi juga pada pra bencana dan pasca bencana. Paradigma penanggulangn bencana, tidak lagi di titik beratkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan resiko bencana, menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat termasuk sekolah.

Pemerintah Kabupaten Sleman juga akan terus mengembangkan SSB di wilayah yang memiliki potensi bencana. Untuk saat ini tercatat telah ada 6 SSB, yakni SMK Nasional Berbah, SMK Muhammadiyah Cangkringan, SMP N 1 Cangkringan, SMK N 1 Cangkringan, SD N Umbulharjo 2 dan SD N Kepuharjo, Cangkringan.

Disamping meresmikan 2 SSB tersebut, Yuni Satia Rahayu juga menyaksikan  simulasi menghadapi bencana yang diikuti siswa dan guru.

IMG_2281IMG_2288  IMG_2374IMG_2376

Sep 10

Pelatihan dan Simulasi Penanggulangan Kebakaran Warga Huntap Lereng Merapi

UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman bekerja sama dengan REKOMPAK (Rehabilitasi Rekonstruksi Masyarakat dan Pemukiman Berbasis Komunitas) dan TPK(Tim Pengelola Kegiatan) Desa  Sindumartani  Kecamatan Ngemplak, TPK Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan,  TPK Desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan, TPK  Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan dan TPK Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan melakukan kegiatan Pelatihan dan Simulasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran di lingkungan Huntap di wilayah Kecamatan Ngemplak dan Cangkringan

Kegiatan yang dibagi dalam lima kelompok bertempat di Balai Desa Sindumartani pada tanggal 26 Agustus 2014, Balai Warga Huntap Kuwang pada tanggal 29 Agustus 2014, Gedung Barak Pengungsian Desa Glagaharjo pada tanggal 3 September 2014, Gedung Pertemuan Huntap Gondang 2 pada tanggal 6 September 2014, dan Gedung Pertemuan Huntap Plosokerep pada tanggal 8 September 2014, diikuti kurang lebih 400 warga  yang berasal dari Huntap Jelapan, Huntap Koripan, Huntap Gondang 2, Huntap Gading, Huntap Jetis Sumur, Huntap Banjarsari, Huntap Kuwang, Huntap Randusari, Huntap Karangkendal, Huntap Plosokerep, Huntap Gambretan, Tagana, dan perwakilan masyarakat sekitar Huntap .

Materi kegiatan meliputi teori antisipasi dan penanggulangan kebakaran, pengenalan alat pemadam kebakaran baik  tradisional maupun  modern dan praktek penggunaan alat pemadam kebakaran yang meliputi penggunaan kain basah sebagai alat pemadam kebakaran tradisional, penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan penggunaan selang dan nozzle dengan air sebagai alat pemadam api skala besar.

Kegiatan tersebut selain untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang mitigasi bencana khususnya kebakaran di wilayah pemukiman padat,  juga  bertujuan  untuk memberikan pelatihan dan ketrampilan serta langkah yang harus dilakukan oleh warga apabila terjadi kebakaran.

cats

Sep 02

Bantuan Calon Induk Sapi Perah Bagi Korban Erupsi Merapi

BPBD melalui kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Erupsi Merapi memberikan bantuan kepada kelompok peternak sapi perah berupa calon induk sapi perah. Bantuan ini diberikan dalam rangka  peningkatan taraf ekonomi korban bencana erupsi gunung Merapi tahun 2010,

Pada tahun 2014  ini BPBD Kabupaten Sleman ini telah melakukan pengadaan calon induk sapi perah sebanyak 497 ekor . Sapi-sapi ini telah diperiksa fisik dan kesehatannya oleh petugas Dinas Pertanian. Perikanan, dan Kehutanan. Para peternak selaku calon penerima bantuan sapi juga terlibat dalam pemeriksaan sapi tersebut. Saat ini sapi-sapi tersebut telah diterima oleh kelompok ternak di Karang kendal, Pagerjurang, Giriharjo, Batur, Gambretan dan  Plosokerep.

Sebelumnya, pada tahun 2012 BPBD Kabupaten Sleman juga telah melakukan pengadaan calon induk sapi perah dan telah diserahkan  kepada kelompok ternak sebanyak 100 ekor.

Pemeriksaan fisik dan kesehatan sapi

Pemeriksaan fisik dan kesehatan sapi

Peternak menempatkan sapi di kandang komunal

Peternak menempatkan sapi di kandang komunal

Aug 14

Simulasi Penanggulangan Kebakaran Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI

UPT Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI melaksanakan kegiatan pelatihan penanggulangan kebakaran . Kegiatan yang merupakan salah satu bentuk penyuluhan UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman dilaksanakan selama dua hari, 12 dan 13 Agustus 2014, diikuti 90 pegawai di lingkungan  Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI.

Kegiatan ini diawali dengan materi ruang dan dilanjutkan materi pengenalan dan penggunaan peralatan pemadam kebakaran tradisional atau penggunaan kain basah, penggunaan APAR( Alat Pemadam Api Ringan), penggunaan selang dan nozzle sebagai perlengkapan dan peralatan Hydrant Rumah Sakit dilanjutkan dengan simulasi kejadian kebakaran dengan menggunakan kayu bakar sebagai obyek kebakaran.

Menurut dr. Widodo Wirawan selaku direktur RSIY PDHI, tujuan pelaksanaan kegiatan simulasi ini untuk meningkatkan kualitas ketrampilan penanganan kebakaran dilingkungan Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI pada khususnya dan di masyarakat pada umumnya.

cats

Jul 23

Rencana Kontinjensi Banjir Lahar Hujan Gendol – Opak Perlu Dikawal

 

Penyusunan rencana kontinjensi Sungai Gendol – Opak perlu dikawal kepala dukuh di daerah rawan bencana, relawan dan komunitas penanggulangan bencana karena pelaksanaannya  sangat tergantung pada mereka. Sedangkan instansi terkait seperti BPBD, TNI/Polri, dan instansi terkait lainnya sifatnya hanya membantu. Hal ini disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Drs. H. Julisetiono, SH, MM, dalam Lokakarya Diseminasi Draft Rencana Kontinjensi Banjir Lahar Hujan Sungai Gendol – Opak, Kabupaten Sleman, 22 Juli 2014, di Hotel Griya Persada, Pakem Sleman.

Dipaparkan Julisetiono bahwa sesuai amanat Perda No 7 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Bencana, pengelolaan penanggulangan bencana dilaksanakan salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk juga memperhatikan kearifan lokal yang ada di masyarakat. “Saat ini Dam Sabo telah dibangun kembali, jalan evakausi juga  akan terus disiapkan agar kondisinya baik. Namun, kalau tanggul sungai juga ikut diambil, itu semua tidak ada gunanya. Lingkungan akan menjadi rusak dan mengancam masyakat di kanan kiri sungai ,” jelasnya.

Tujuan penyusunan dokumen rencana kontinjensi ini adalah untuk menyediakan pedoman penanggulangan bencana banjir lahar hujan di daerah aliran sungan Gendol dan Opak pada saat tanggap darurat bencana secara cepat dan efektif. Selain itu juga sebagai dasar memobilisasi sumber daya para pemangku kepentingan.

Lokakarya ini diselenggarakan sebagai bagian dalam proses penyusunan Rencana Kontinjensi Banjir Lahar Hujan Sungai Gendol – Opak, Kabupaten Sleman yang didukung oleh UNDP. Sebagai narasumber antara lain Prof. Dr. HA Sudibyakto , MS, Drs H. Urip Bahagia, Bambang Sukoco, ST, MT dan  Dr. Ir Eko Teguh Paripurno, MT.

 

IMG_6092IMG_6095

IMG_6091IMG_6093

Jul 15

Capaian SPM Penanggulangan Bencana Kebakaran Tahun 2014 Semester I

UPT Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sleman mengemban jenis pelayanan dasar Penanggulangan Bencana Kebakaran sesuai dengan Permendagri nomor 69 tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 62 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM). Disebutkan bahwa  jenis pelayanan dasar Penanggulangan Bencana Kebakaran  Bidang Pemerintahan Dalam Negeri di Kabupaten/Kota tersebut diukur dengan 4 indikator kinerja yang semuanya dengan batas waktu pencapaian tahun 2015.

4 indikator tersebut adalah 1). Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran dengan nilai nasional 80%. 2).  Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) nilai nasional adalah 75 %. 3). Persentase aparatur pemadam kebakaran  yang memenuhi standar kualifikasi dengan nilai nasional 85 %. 4). jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK ( Wilayah Manajemen Kebakaran) dengan nilai nasional 90%.

Capaian SPM dan Rencana ke Depan

Saat ini capaian SPM semester I tahun 2014, untuk keempat indikator tersebut adalah sebagai berikut: pertama, cakupan pelayanan bencana kebakaran di Kabupaten Sleman adalah 18,04 persen. Untuk rencana ke depan agar capaiannya meningkat atau setidaknya mendekati nilai nasional, UPT Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sleman akan mengembangkan 2 Wilayah Manajemen Kebakaran di Kecamatan Depok dan di Kecamatan Godean. Langkah yang dilakukan adalah membuat perencanaan DED untuk Kantor Posko Pemadam Kebakaran di Kecamatan Depok dan Kecamatan Godean di tahun 2015 nanti. Sedangkan untuk pembangunan fisiknya akan direncanakan di tahun 2016.

Kedua, capaian Indikator Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) dari 26 kejadian selama semester I tahun 2014, yang berada di Wilayah Manajemen Kebakaran  (WMK Beran) sejumlah 12 kejadian. Dari 12 kejadian tersebut ResponTime mencapai 100 persen.     Capaian inikator kedua ini telah melebih nilai nasional, namun berdasarkan analisis data hanya 12 kejadian kebakaran berada di dalam WMK, sedangkan sisanya 14 kejadian berada di luar WMK. Ukuran dan luasan WMK ini mengikuti aturan dalam Permendagri 69 tahun 2012. Artinya, sebagian besar kejadian kebakaran masih berada di luar WMK atau masuk dalam wilayah yang belum terlindungi (unprotected area). Dengan demikian pengembangan WMK menjadi kebutuhan yang perlu segera direalisir.

Ketiga, yakni persentase aparatur pemadam kebakaran yang memenuhi kualifikasi berdasar sertifikasi standar yang dilegalisasi Kementerian Dalam Negeri, capainnya  37,5 persen atau baru ada 12 aparat dari 32 aparat Pemadam kebakaran di Sleman yang memenuhi kualifikasi sertifikasi standar. Secara bertahap akan diupayakan untuk meningkatkan jumlah personil pemadam kebakaran sleman  yang memenuhi standar sertifikasi dengan mengusulkan ke Badan Kepegawaian Daerah untuk mengirim personil mengikuti pendidikan dan latihan yang memenuhi standar. Disamping itu, tak kalah pentingnya adalah menjaga agar personil yang sudah memiliki kualifikasi sertifikasi tidak dimutasi atau dipindah.

Untuk indikator keempat, yakni jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK, saat ini baru ada 3 unit mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK. Sedangkan untuk WMK secara ideal di Sleman dibutuhkan 6 WMK. Dengan kekuatan 3 unit mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter yang dimiliki tersebut maka capaianya 50 persen. Ke depan seiring dengan rencana pengembangan 2 WMK, jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter ini masih perlu ditambah agar capainnya bisa mendekati nilai nasional.

Older posts «