Sep 18

Wakil Bupati Resmikan Sekolah Siaga Bencana

Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, SS, M.Hum, meresmikan SDN Umbulharjo 2 dan SDN Kepuharjo Cangkringan  sebagai Sekolah Siaga Bencana (SSB), di SDN Umbulharjo Selasa 16 September 2014.  Hadir pada kesempataan tersebut antara lain Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Drs. H. Julisetiono Dwi Wasito, SH,MM, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Ir. Gatot Saptadi,  Muspika kecamatan Cangkringan,  Kepala Desa  Umbulharjo dan Kepala Desa Wukirsari, Cangkringan.

Yuni Satia Rahayu menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, dibalik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Sleman menyimpan potensi bencana yang diakibatkan faktor alam maupun non alam.

“Pada tahun 2010 yang lalu, kita semua merasakan bagaimana dasyatnya erupsi Gunung Merapi, yang kemudian diikuti oleh banjir lahar hujan yang terus mengancam sampai saat ini. Beberapa saat yang lalu, sebagian masyarakat Sleman juga terkena angin puting beliung yang juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Untuk itu, Saya berharap agar semua elemen masyarakat di Kabupaten Sleman mengerti dan memahami bagaimana menanggulani bencana dan menjadi tangguh dalam mitigasi dan penanganan bencana,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa menghadapi fenomena bencana yang makin luas dan kompleks, sesuai Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, harus menyelenggarakan, bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, Tetapi juga pada pra bencana dan pasca bencana. Paradigma penanggulangn bencana, tidak lagi di titik beratkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan resiko bencana, menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat termasuk sekolah.

Pemerintah Kabupaten Sleman juga akan terus mengembangkan SSB di wilayah yang memiliki potensi bencana. Untuk saat ini tercatat telah ada 6 SSB, yakni SMK Nasional Berbah, SMK Muhammadiyah Cangkringan, SMP N 1 Cangkringan, SMK N 1 Cangkringan, SD N Umbulharjo 2 dan SD N Kepuharjo, Cangkringan.

Disamping meresmikan 2 SSB tersebut, Yuni Satia Rahayu juga menyaksikan  simulasi menghadapi bencana yang diikuti siswa dan guru.

IMG_2281IMG_2288  IMG_2374IMG_2376

Sep 10

Pelatihan dan Simulasi Penanggulangan Kebakaran Warga Huntap Lereng Merapi

UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman bekerja sama dengan REKOMPAK (Rehabilitasi Rekonstruksi Masyarakat dan Pemukiman Berbasis Komunitas) dan TPK(Tim Pengelola Kegiatan) Desa  Sindumartani  Kecamatan Ngemplak, TPK Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan,  TPK Desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan, TPK  Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan dan TPK Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan melakukan kegiatan Pelatihan dan Simulasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran di lingkungan Huntap di wilayah Kecamatan Ngemplak dan Cangkringan

Kegiatan yang dibagi dalam lima kelompok bertempat di Balai Desa Sindumartani pada tanggal 26 Agustus 2014, Balai Warga Huntap Kuwang pada tanggal 29 Agustus 2014, Gedung Barak Pengungsian Desa Glagaharjo pada tanggal 3 September 2014, Gedung Pertemuan Huntap Gondang 2 pada tanggal 6 September 2014, dan Gedung Pertemuan Huntap Plosokerep pada tanggal 8 September 2014, diikuti kurang lebih 400 warga  yang berasal dari Huntap Jelapan, Huntap Koripan, Huntap Gondang 2, Huntap Gading, Huntap Jetis Sumur, Huntap Banjarsari, Huntap Kuwang, Huntap Randusari, Huntap Karangkendal, Huntap Plosokerep, Huntap Gambretan, Tagana, dan perwakilan masyarakat sekitar Huntap .

Materi kegiatan meliputi teori antisipasi dan penanggulangan kebakaran, pengenalan alat pemadam kebakaran baik  tradisional maupun  modern dan praktek penggunaan alat pemadam kebakaran yang meliputi penggunaan kain basah sebagai alat pemadam kebakaran tradisional, penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan penggunaan selang dan nozzle dengan air sebagai alat pemadam api skala besar.

Kegiatan tersebut selain untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang mitigasi bencana khususnya kebakaran di wilayah pemukiman padat,  juga  bertujuan  untuk memberikan pelatihan dan ketrampilan serta langkah yang harus dilakukan oleh warga apabila terjadi kebakaran.

cats

Sep 02

Bantuan Calon Induk Sapi Perah Bagi Korban Erupsi Merapi

BPBD melalui kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Erupsi Merapi memberikan bantuan kepada kelompok peternak sapi perah berupa calon induk sapi perah. Bantuan ini diberikan dalam rangka  peningkatan taraf ekonomi korban bencana erupsi gunung Merapi tahun 2010,

Pada tahun 2014  ini BPBD Kabupaten Sleman ini telah melakukan pengadaan calon induk sapi perah sebanyak 497 ekor . Sapi-sapi ini telah diperiksa fisik dan kesehatannya oleh petugas Dinas Pertanian. Perikanan, dan Kehutanan. Para peternak selaku calon penerima bantuan sapi juga terlibat dalam pemeriksaan sapi tersebut. Saat ini sapi-sapi tersebut telah diterima oleh kelompok ternak di Karang kendal, Pagerjurang, Giriharjo, Batur, Gambretan dan  Plosokerep.

Sebelumnya, pada tahun 2012 BPBD Kabupaten Sleman juga telah melakukan pengadaan calon induk sapi perah dan telah diserahkan  kepada kelompok ternak sebanyak 100 ekor.

Pemeriksaan fisik dan kesehatan sapi

Pemeriksaan fisik dan kesehatan sapi

Peternak menempatkan sapi di kandang komunal

Peternak menempatkan sapi di kandang komunal

Aug 14

Simulasi Penanggulangan Kebakaran Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI

UPT Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI melaksanakan kegiatan pelatihan penanggulangan kebakaran . Kegiatan yang merupakan salah satu bentuk penyuluhan UPT Pemadam Kebakaran BPBD Sleman dilaksanakan selama dua hari, 12 dan 13 Agustus 2014, diikuti 90 pegawai di lingkungan  Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI.

Kegiatan ini diawali dengan materi ruang dan dilanjutkan materi pengenalan dan penggunaan peralatan pemadam kebakaran tradisional atau penggunaan kain basah, penggunaan APAR( Alat Pemadam Api Ringan), penggunaan selang dan nozzle sebagai perlengkapan dan peralatan Hydrant Rumah Sakit dilanjutkan dengan simulasi kejadian kebakaran dengan menggunakan kayu bakar sebagai obyek kebakaran.

Menurut dr. Widodo Wirawan selaku direktur RSIY PDHI, tujuan pelaksanaan kegiatan simulasi ini untuk meningkatkan kualitas ketrampilan penanganan kebakaran dilingkungan Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI pada khususnya dan di masyarakat pada umumnya.

cats

Jul 23

Rencana Kontinjensi Banjir Lahar Hujan Gendol – Opak Perlu Dikawal

 

Penyusunan rencana kontinjensi Sungai Gendol – Opak perlu dikawal kepala dukuh di daerah rawan bencana, relawan dan komunitas penanggulangan bencana karena pelaksanaannya  sangat tergantung pada mereka. Sedangkan instansi terkait seperti BPBD, TNI/Polri, dan instansi terkait lainnya sifatnya hanya membantu. Hal ini disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Drs. H. Julisetiono, SH, MM, dalam Lokakarya Diseminasi Draft Rencana Kontinjensi Banjir Lahar Hujan Sungai Gendol – Opak, Kabupaten Sleman, 22 Juli 2014, di Hotel Griya Persada, Pakem Sleman.

Dipaparkan Julisetiono bahwa sesuai amanat Perda No 7 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Bencana, pengelolaan penanggulangan bencana dilaksanakan salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk juga memperhatikan kearifan lokal yang ada di masyarakat. “Saat ini Dam Sabo telah dibangun kembali, jalan evakausi juga  akan terus disiapkan agar kondisinya baik. Namun, kalau tanggul sungai juga ikut diambil, itu semua tidak ada gunanya. Lingkungan akan menjadi rusak dan mengancam masyakat di kanan kiri sungai ,” jelasnya.

Tujuan penyusunan dokumen rencana kontinjensi ini adalah untuk menyediakan pedoman penanggulangan bencana banjir lahar hujan di daerah aliran sungan Gendol dan Opak pada saat tanggap darurat bencana secara cepat dan efektif. Selain itu juga sebagai dasar memobilisasi sumber daya para pemangku kepentingan.

Lokakarya ini diselenggarakan sebagai bagian dalam proses penyusunan Rencana Kontinjensi Banjir Lahar Hujan Sungai Gendol – Opak, Kabupaten Sleman yang didukung oleh UNDP. Sebagai narasumber antara lain Prof. Dr. HA Sudibyakto , MS, Drs H. Urip Bahagia, Bambang Sukoco, ST, MT dan  Dr. Ir Eko Teguh Paripurno, MT.

 

IMG_6092IMG_6095

IMG_6091IMG_6093

Jul 15

Capaian SPM Penanggulangan Bencana Kebakaran Tahun 2014 Semester I

UPT Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sleman mengemban jenis pelayanan dasar Penanggulangan Bencana Kebakaran sesuai dengan Permendagri nomor 69 tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 62 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM). Disebutkan bahwa  jenis pelayanan dasar Penanggulangan Bencana Kebakaran  Bidang Pemerintahan Dalam Negeri di Kabupaten/Kota tersebut diukur dengan 4 indikator kinerja yang semuanya dengan batas waktu pencapaian tahun 2015.

4 indikator tersebut adalah 1). Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran dengan nilai nasional 80%. 2).  Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) nilai nasional adalah 75 %. 3). Persentase aparatur pemadam kebakaran  yang memenuhi standar kualifikasi dengan nilai nasional 85 %. 4). jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK ( Wilayah Manajemen Kebakaran) dengan nilai nasional 90%.

Capaian SPM dan Rencana ke Depan

Saat ini capaian SPM semester I tahun 2014, untuk keempat indikator tersebut adalah sebagai berikut: pertama, cakupan pelayanan bencana kebakaran di Kabupaten Sleman adalah 18,04 persen. Untuk rencana ke depan agar capaiannya meningkat atau setidaknya mendekati nilai nasional, UPT Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sleman akan mengembangkan 2 Wilayah Manajemen Kebakaran di Kecamatan Depok dan di Kecamatan Godean. Langkah yang dilakukan adalah membuat perencanaan DED untuk Kantor Posko Pemadam Kebakaran di Kecamatan Depok dan Kecamatan Godean di tahun 2015 nanti. Sedangkan untuk pembangunan fisiknya akan direncanakan di tahun 2016.

Kedua, capaian Indikator Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) dari 26 kejadian selama semester I tahun 2014, yang berada di Wilayah Manajemen Kebakaran  (WMK Beran) sejumlah 12 kejadian. Dari 12 kejadian tersebut ResponTime mencapai 100 persen.     Capaian inikator kedua ini telah melebih nilai nasional, namun berdasarkan analisis data hanya 12 kejadian kebakaran berada di dalam WMK, sedangkan sisanya 14 kejadian berada di luar WMK. Ukuran dan luasan WMK ini mengikuti aturan dalam Permendagri 69 tahun 2012. Artinya, sebagian besar kejadian kebakaran masih berada di luar WMK atau masuk dalam wilayah yang belum terlindungi (unprotected area). Dengan demikian pengembangan WMK menjadi kebutuhan yang perlu segera direalisir.

Ketiga, yakni persentase aparatur pemadam kebakaran yang memenuhi kualifikasi berdasar sertifikasi standar yang dilegalisasi Kementerian Dalam Negeri, capainnya  37,5 persen atau baru ada 12 aparat dari 32 aparat Pemadam kebakaran di Sleman yang memenuhi kualifikasi sertifikasi standar. Secara bertahap akan diupayakan untuk meningkatkan jumlah personil pemadam kebakaran sleman  yang memenuhi standar sertifikasi dengan mengusulkan ke Badan Kepegawaian Daerah untuk mengirim personil mengikuti pendidikan dan latihan yang memenuhi standar. Disamping itu, tak kalah pentingnya adalah menjaga agar personil yang sudah memiliki kualifikasi sertifikasi tidak dimutasi atau dipindah.

Untuk indikator keempat, yakni jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK, saat ini baru ada 3 unit mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter pada WMK. Sedangkan untuk WMK secara ideal di Sleman dibutuhkan 6 WMK. Dengan kekuatan 3 unit mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter yang dimiliki tersebut maka capaianya 50 persen. Ke depan seiring dengan rencana pengembangan 2 WMK, jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000-5000 liter ini masih perlu ditambah agar capainnya bisa mendekati nilai nasional.

Jun 02

Simulasi Penanggulangan Kebakaran Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman

UPT Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman melakukan pelatihan dan simulasi penanggulangan kebakaran yang diikuti 80 orang pegawai dari lingkungan Dinas Kesehatan di halaman Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman,  Jum’at 30 Mei 2014,

Kegiatan yang berlangsung selama 2 jam ini dimulai pukul 09.00 WIB, dan diawali  dengan materi pengenalan dan penggunaan peralatan pemadam kebakaran tradisional atau penggunaan kain basah, penggunaan APAR( Alat Pemadam Api Ringan) dilanjutkan dengan simulasi kejadian kebakaran dengan skenario Kantor Dinas Kesehatan terjadi kebakaran .

Dengan kegiatan ini diharapkan pegawai dilingkungan dinas kesehatan dapat melakukan cegah dini, penanggulangan dini dan selalu siap bila terjadi kebakaran di lingkungannya.

 cats

May 14

Tuang Bensin, Bengkel Terbakar

Sebuah bengkel tambal ban milik  Hasan Subari, di Jl. Magelang Km.18, Tempel, Lumbungrejo, Tempel, Sleman, terbakar pada Senin, 12 Mei 2014, pukul 10.55 WIB. Kejadian berawal ketika pemilik bengkel menuangkan bensin dari jerigen besar di dekat kompor tambal ban

Menurut saksi mata, pemilik bengkel menuangkan bensin dari jerigen besar di dekat kompor tambal ban yang masih menyala, dan tiba-tiba api menyambar jerigen bensin. Dengan cepat api membesar dan menghanguskan isi bengkel. Akibat kejadian ini pemilik bengkel harus dibawa ke Rumah Sakit Morangan karena luka bakar dan kerugian mencapai jutaan rupiah.

Berkaitan dengan kejadian ini, Kepala UPT Pemadam Kebakaran Sleman, Drs Ismu Ahmad Widodo berpesan agar masyarakat senantiasa waspada dan hati-hati terhadap bahaya kebakaran. Ia melihat banyak masyarakat yang membuka tambal ban dan sekaligus menjual bensin eceran.

Menurutnya, dua kegiatan yang berada di lokasi yang sama tersebut sangat riskan terjadi kebakaran. Untuk itu ia berpesan agar pemilik tambal ban yang sekaligus berjualan bensin eceran untuk benar-benar berhati-hati dan waspada terhadap bahaya kebakaran. Harus ada jarak yang aman antara kegiatan berjualan bensin eceran dan menambal ban yang dalam kegiatannnya membutuhkan api.

 IMG_5211a

May 10

Garasi PO Wolu Terbakar

Garasi PO Wolu yang berada di Jl.  Magelang km. 11,7 Beteng Tridadi Sleman, Jum’at, 9 Mei 201p4 pukul 09.20 WIB terbakar. Akibat kejadian ini, dua bus PO Wolu, satu bus PO Karyasari dan satu chasis  terbakar dan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Menurut saksi mata kejadian berawal dari kegiatan bengkel PO wolu yang akan memindahkan body mobil bus Karyasari ke chasis bus Wolu, tiba-tiba ada percikan api dari kabin bus Karyasari dan dengan cepat membesar dan merembet ke bus yang lain.

Anggota pemadam  Sleman yang tiba dilokasi 5 menit setelah menerima laporan segera  berjibaku melokalisir dan memadamkan api dengan 1 unit mobil pemadam kebakaran  dan 1 unit tanki penyuplai air UPT Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sleman. Setelah kurang lebih setengah jam api berhasil dikendalikan dan dipadamkan.

web

May 02

Skema Alur Evakuasi dan Tempat Pengungsian

BPBD Kabupaten  Sleman telah membuat skema alur evakuasi penduduk bencana Gunung Merapi dan juga  tempat pengungsiannya.  (Lihat Skema Alur Evakuasi).

Kepala BPBD Sleman DRs. H. Julisetiono Dwi Wasito, SH, MM mengatakan selain membuat alur, juga telah membuat skenario penangganan bencana Gunung merapi , yaitu skenario 10 Km  dan  15 km. Dalam skenario ini zonasi sudah jelas, terutama untuk evakuasi yang tidak boleh menyeberangi sungai.

Pada skema alur tersebut juga telah dimasukkan zona  tempat pengungsian, termasuk jumlah penduduk dan kapasitasnya,” kata Julisetiono di ruang kerjanya.

Untuk zonasi ini, sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan aparat desa setempat. Dari hasil koordinasi tersebut,  konsep yang disodorkan BPBD bisa diterima. Namun begitu,  untuk konsep tetap mengikuti perkembangan yang ada. Terutama untuk barak dan jumlah pengungsian.

“Untuk tempat dan jumlah pengungsian bisa berubah, tergantung dengan situasi di lapangan. Untuk barak ada 19, balai desa 10, dan non barak dan non balai desa ada 6, sehingga total ada 35 tempat pengungsian. Untuk barak kapasitas antara 300-400 orang per barak,”  paparnya. (Lihat  Tempat Pengungsian)

Selain itu, juga sudah menyiapkan early warning system (EWS) di beberapa titik dan membentuk  forum penanggulangan bencana di tingkat kecamatan. forum tersebut merupakan embrio, yaitu sebagai  unit operasional  bencana dan untuk pelaksanana penanggulangan bencana ada di tingkat desa.

Older posts «